Senin, 16 Februari 2015

Sajak Senja

Apa yang membuat dirimu nyaman didunia ini? memiliki banyak teman kah? Merasakan hidup ini bukan hanya sekedar bangun dan tertidur dimalam hari, merasakan  jika dunia ini begitu indah disaat ada seseorang yang menyapamu dipagi yang dingin. Suatu keindahan yang begitu sederhana tetapi membuat hariku seperti sebuah lukisan yang dipenuhi beribu warna-warna flanel yang begitu indah. Ya, sebut saja ia senja.
Tingkah lakunya syarat dengan aroma jingga, begitu misterius, gurat asa yang begitu klise dan indah akan selalu berputar-putar dikepalaku. Ia, muncul begitu saja dalam kehidupanku dari balik tembok-tembok tinggi kesunyian laksana seorang dewi Shinta yang sedang memainkan pagelaran peneduh hati. Menari-nari dan terus menari dalam sebuah keindahan yang klise,tapi saya suka. Dirinya seperti sebuah foto pemandangan yang akan selalu indah tanpa noise mmeskipun tak bisa ku sentuh dan kupeluk sosoknya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIk_RSb2IIppB4-6d17Qaiz7FYjbu7yS-qRW9ijjot_BkcF60mwhIoxLEJwt9DdESy13WzB9yzEw6K-6C7hAgxq1-JjlJxQcSg4uUbiOZUzygTi1KtpeQ82VzE_-eGv_pr-QvRgZ7fzh0/s1600/kartun.jpgTerkadang seringku terdiam dan memikirkan tentang dirinya, apakah dia nyata? Apakah ini hanya mimpi? Tak apalah jika ini mimpi asalkan itu mimpi tentang dirinya, ku akan berlama-lama tidur agar tak menghentikan mimpi itu. Seorang wanita cantik dengan biola ditangannya memainkan lagu-lagu senja, dan apakah itu tak membuat orang yang memandangnya jatuh hati padanya?
 Jelas saja jika ku terpesona, mungkin karisma yang tak bisa ku tolak jika sedang membayangkan dia, merasakannya dia dari jauh, membayangi wajahnya, berdialog senyap dan tertawa riang dengan dirinya mungkin sudah cukup untukku. Tetapi apakah nanti ku kan bertemu dengannya? Dengan ia, sosok sang senja yang selalu membuat diriku nyaman.
Tunggulah dengan sabar wahai Dewi Shinta, ku kan datang menemui bagaikan senja yang akan bertemu sang malam, bagai perahu yang sudah lama berkelana dan akan bersandar didermaga hatimu, bagaikan..ah sudahlah. Ku bukan seperti matahari yang sampai kapanpun tak akan bisa bertemu sang bulan. Tunggu aku, dengan semua keindahanmu itu, dengan semua lemah lembutmu, Biarkan nanti kita berdua menikmati bersama harum senja disore hari dan awan yang selalu berbisik tentang namamu. 

Kamis, 12 Februari 2015

Secangkir Kehidupan

Apakah yang kamu pikirkan jika mendengar kata “kopi”, sebuah minuman hitam yang memiliki cita rasanya tersendiri. Minuman yang selalu disediakan disetiap kedai-kedai kopi pinggir jalan. Selalu di sruput oleh setiap lapisan masyarakat dari yang kaya sampai si miskin, dari yang berpasangan maupun yang jomblo.  Kopi laksana teman pasif yang selalu menemani dikala waktu-waktu senggang tak ada pekerjaan.
https://iwandahnial.files.wordpress.com/2013/02/1-john-lennon.jpg
Ilustrasi : Blog Sebelah
  Terlihat sederhana tetapi memiliki nilai inspirasi tersendiri, itu mungkin yang bisa menggambar dari segelas kopi.  Kopi, minuman hitam yang memiliki rasa sedikit pahit ini jika kita resapi dengan mendalam, sebenarnya memiliki keindahan filosofinya sendiri. Sudah banyak buku-bukupun menjelaskan dari segelas kopi itu terkadang dapat menimbulkan suatu inspirasi tersendiri bagi setiap penikmatnya. Lantas bagaimana cara kita menikmati segelas kopi ini? Jawabannya  pun subjektif tergantung suasana maupun pribadi masing-masing penikmatnya.
Baik sang penikmatnya itu sedang dilanda pikiran sakit jiwapun terkadang kopi bisa sebagai penawar obat penenangnya, begitu hebat bukan dampak non medis yang diberikan dari segelas kopi apa mungkin ini hanya perasaan penulis saja yang memang notabene adalah penikmat maniac dari kopi sendiri, sedikit subjektif memang. Tapi memang dari ruang subjektifitas itu juga lapisan masyarakat yang menikmatinya sama seperti tulisan di paragraf pertama tadi.
Kopi yang dari cara penyajiannya pun beragam ada yang menggunakan mug besar, cangkir kecil yang dibawahnya disediakan piring kecil dengan bau aromanya yang khas, seolah-olah disetiap aroma tersebut siap meledakkan batu inspirasi didalam kehidupan kita ini. Jika kita amati dari segelas kopi, memang banyak sekali filosofi kehidupan yang bisa kaitkan satu dengan lainnya. Contohnya saja mengapa minuman tersebut memiliki warna hitam? Tentu seperti kehidupan pula yang  selalu memiliki banyak warna-warna yang jika dicampurkan akan menjadi warna hitam, tetapi jika kita pintar untuk menikmati hidup ini warna hitam itupun akan terasa nikmat dan indah. Rasa kopi pun beragam ada yang pahit dan juga ada yang manis dan juga yang kedua-duanya rasa itu sasling tercampur, jika kita hubungkan dengan kehidupan ini, memang benar sekali jika hidup ini pun terkadang ada rasa pahitnya dan juga manisnya, manis pahit kehidupan ini memang tidak bisa kita hindari, tetapi jika kita bisa meramunya dan juga memandang hal tersebut sebagai hal yang bisa dinikmati di kala senja dan bisa menjadikan hal pahit manis itu sebagai guru dalam kehidupan kita diwaktu mendatang kenapa tidak? Dan juga menikmati kopi pun jangan terlalu berlebihan, sama seperti halnya kehidupan ini, juga harus seimbang tidak boleh berat sebelah tidak boleh terlalu dipahit-pahitkan dan juga tidak boleh terlalu manis, karena jika terlalu manis apa nantinya tidak akan menimbulkan rasa mual, maupun penyakit diabetes?
Dari situlah banyak nilai guna dan positif dari segelas kopi jika kita menela’ahnya dari segi keterkaitan hal tersebut dengan kehidupan.  Kehidupan layaknya segelas cangkir kopi, yang dalamnya banyak sekali warna, dan juga rasa. Manusia harus kuat dengan semua rasa pahit kehidupan ini dan juga pintar dalam mengambil hal positif dari setiap masalahnya. Kopi yang mengajarkan kita bagaimana cara berpikir tenang dan tidak gegabah dalam menyikapi sebuah kehidupan. kopi akan berubah menjadi sebuah minuman yang nikmat setelah awalnya digiling dulu tuk serbuk kopi dan menjadi sebuah minuman yang kya dengan cita rasa, begitu juga kehidupan harus melewati proses dan menghargai proses tersebut, karena tidak hidup yang indah tanpa melewati sebuah proses yang panjang juga.
Hitam warna minumannya bukan berarti tidak enak juga rasanya. Jangan menilai sesuatu dari bentuk fisiknya saja. Rasakan dan nikmatilah terlebih dahulu ambil lah sisi positifnya dari setiap rasa kopi begitupun dengan rasa kehidupan ini. kehidupan ini bukan laksana bola-bola permen yang akan selalu manis dalam setiap jengkal kehidupan. Hidup ini diciptakan dengan berbagai rasa oleh sang penciptaNYA agar kita bisa menemukan rasa manisnya dikemudian hari. Layaknya kopi jika kamu baru merasakannya sekali akan terasa aneh dimulut, tetapi jika kita bisa menemukan sisi kenikmatannya sendiri dan juga filosofi yang kita dapat setelah meminum kopi, maka dunia inipun seperti secangkir kopi,  rasa pahit manisnya begitu nikmat jika kita pintar cara menikmati kehidupan ini, betul bukan, bagaimana menurut anda?