Jika
Anda seorang jutawan yang sudah pasti memiliki
uang banyak, sah-sah saja jika Anda membuat rumah produksi kecap
sendiri, dengan jargon “Kecap Nomor Wahid” dan
jangan lupa juga memajang diri Anda besar-besar dibotol kecap. Sekarang, hanya tinggal menyebarluaskan saja
kecap buatan pribadi itu ke khalayak banyak dengan menggunakan jargon di atas.
Selanjutnya tinggal pengamatan dan lidah masyarakatlah yang menilai mana yang benar-benar kecap
nomor satu atau mana kecap yang hanya nomor satu dalam hal pencitraan saja. Hal
ini pun bukan hanya ditemui di persaingan produk kecap saja, tetapi jika kita
menganalisis ke dalam realitas yang ada, kejadian seperti ini juga sering
terjadi di lingkungan masyarakat (baca: kampus)
Begitu
banyak yang mencitrakan diri sebagai “aku adalah nomer satu di semua bidang” dan
merasa otoriter, padahal buku-buku yang baru mereka baca hanyalah baru sampai
majalah Bobo (analogi saja) sampai-sampai
merasa pongah dengan orang lain dan
lupa dengan ilmu padi.
Sungguh
ironis bukan? Tetapi hal ini memanglah realita kalau saja kita peka
menganalisis setiap gerak-gerik individu yang ada di lingkungan kita. Memang
tak ada larangan jika seseorang menganggap dirinya lebih baik daripada teman
sebayanya, tapi ingat hal itu pun harus dibarengi
oleh proses dia dalam belajarnya juga. Karena hakekatnya, jika seseorang itu
sudah memiliki wawasan yang luas pasti akan merasa kecil sebab sudah terlalu
banyak hal yang mereka ketahui, bukannya malah angkuh dan sampai-sampai lupa
bahwa dia berasal dari tanah lalu akan kembali lagi ke tanah jua.
Hal
ini pun terkadang (telah) sering terlupakan oleh pers kampus, yang katanya
lebih mengedepankan proses dalam mencari wawasan. Dalam dialog pojok kampung
memang tidak ada larangan jika seseorang mencari suatu eksistensi di suatu
bidang yang sedang ia geluti, tetapi eksistensi yang berlebihan pun tidak baik
karena suatu hal yang berlebihan pasti tidak akan baik, ingat konsep makan
garam.
Terkadang
miris melihat jika ada pewarta kampus yang tidak konsisten dengan metode
pencarian beritanya, yang mana hanya mengedepankan pandangan subjektif sang
pewarta terhadap suatu hal, padahal pada pendidikannya sang pewarta kampus
sering dididik oleh pandangan objektif dalam melihat suatu fenomena, perlu digarisbawahi
bahwa wartawan kampus bukanlah hakim yang menentukan itu benar atau salah,
wartawan kampus bukan hanya bisa mengkritik suatu kebijakan tapi juga sebaiknya
dapat memberikan solusi, dan tambahan organisasi pers kampus bukanlah ladang untuk
oknum pers dalam hal mencari eksistensi diri secara seradak-seruduk, tetapi sebagai sarana kajian yang mengedepankan
aspek wawasan secara bertahap yang berfokuskan pada individu pers kampus itu
sendiri.
Jika
kita melihat kinerja pers kampus sendiri, memang porsinya didalam intensitas
pencarian berita tidak dapat disamakan dengan pers umum yang biasanya sudah
terjun ke media sungguhan, karena memang organisasi pers kampus dapat dijadikan
suatu simulasi kerja jika seorang mahasiswa itu tertarik didalam dunia pencarian
berita. Bagaimana nanti sang pewarta kampus itu bisa menjadi sukses jika dalam
ranah simulasi saja sudah tidak fokus. Jangan jadikan embel-embel pers kampus sebagai tempat untuk menaikkan eksistensi,
karena ingat, di dalam organisasi pers kampus itu bukan hanya ada satu atau dua
orang saja tetapi disitu ada tim yang bekerja secara bersama-sama.
Jadi
kembali lagi analogi kecap tadi, kita boleh saja mencari eksistensi diri
sebanyaknya menggunakan suatu media, tetapi ingat jika eksistensi itu datang
jika pribadi sang pers kampus itu sudah memiliki suatu prestasi dalam dirinya
karena jika kita membicarakn suatu organisasi pers kampus, pasti tidak akan
lepas dari segi kualitas diri wartawan kampus itu sendiri, selebihnya tinggal
lingkungan masyarakatlah (baca:kampus) yang menilai kinerja pers kampus itu
sendiri, simple bukan?