Selasa, 23 April 2019

Salah Kamar


Coba menjadi seorang pengelana,namun tak berhasil
Terapung mencari sesuatu, begitu nihil
Masih hangat rasanya bagaimana ambisi menjadi seorang yang anggun dalam bersikap.
Terus menggali potensi diri namun, begitulah manusia akan selalu lalai dengan memahami sebuah kehidupan...

Manusia nota benenya akan selalu memerlukan kitab suci dalam pedomannya, lalu perlu untuk selalu mengingat ibunya (Tuhan) supaya tidak salah kamar.
Salah bersikap..
Salah berpola pikir..
Salah Kiblat..
Salah Parkir..
Salah persepsi..
Ilusi jiwa yang membawa manusia terkadang menilai seolah-olah dia makhluk paling superior dalam hebat dalam setiap hal, Tapi akhirnya aku akui sekarang.
Aku hanya setetes air hina yang diciptakan dari perilaku biologis, lalu memiliki ruh dan juga akal.
Lantas akal itupun perlu untuk selalu kita asah.

Penasehat yang paling ulung itu adalah pengalaman hidup.
Kebingunan itu adalah pencetusnya.
Ya, aku hanya mencoba kembali pada kiblat diriku, Kembali ke setelan pabrik.
Meskipun hanya menjadi onani diri sendiri, tak menjadi masalah.
Kembali ke setelan pabrik, tapi dengan fitur yang baru untuk memandang dunia ini.
Lantas apa lagi yang harus aku perbuat?


Baru nulis lagi.


***

Senin, 08 Agustus 2016

Kala Manusia Menggugat

Keadaan sekitar yang membuatku seperti ini, keadaan sekitar pula yang membuatku seakan merasa matang sebelum dewasa, terkadang memang manusia gampang untuk merasa pongah dengan apa yang sudah dia dapatkan sekitarnya tanpa menyadari bahwa dia tidaklah hanya sebutir debu jika di lihat dari tatasurya yang tak menentu ujungnya.
         Ya, memang tak akan ada habisnya jika kita membahas manusia, mamalia yang menggunakan kedua kakinya untuk berjalan, makhluk yang dianugerahnya otak yang hanya ia pakai sekitar 3% tetapi sudah bisa merusak bumi begitu hebatnya begitupun sebaliknya. Namun pada realitanya manusiapun di berikan anugerah yaitu “gampang lupa,” oleh sebab itu terkadang manusia sering lupa apa tujuan hidupnya dan hanya mengikuti arus kehidupan yang terkadang menyesatkan. Tanya saja coba, sebenarnya dari milyaran tahun bumi diciptakan dan akhirnya terciptannya manusia, lalu sebenarnya apa tujuannya? Aku pun tak bisa menjawabnya.
Apalagi ditambah dengan perputaran arus dilema kehidupan yang semakin mengerikan ini, yang dimana manusia dituntut untuk bisa menguasai salah satu dari sekian banyak keahlian dimuka bumi tetapi yang aku bingungkan kalau hasilnya seperti itu, kenapa dari kecil kita dituntut untuk belajar segala macam pelajaran?
Ini sebenarnya hanya keresahan diriku saja, masih banyak pertanyaan-pertanyaan didalam pikiranku yang sering menghantui, dan ada tujuan apa aku diberikan kodrat sebagai manusia pula. Rasa gundah akan sebenarnya apa yang pada nyatanya manusia memang harus terus belajar tetapi realitanya sekarang ilmu pengetahuan hanya dijadikan ajang untuk tujuan orang-orang tertentu saja. Tidak ada ilmu pengetahuan murni yang terlepas dari adanya kepentingan didalamnya, berbeda jika pada saat manusia masih sering mengalami pengalaman catarsis di kehidupannya. Sekarang, sungguh hebat manusia sudah dibanjiri oleh segala macam informasi yang bisa didapatkan secara instan, jadi bisa kita simpulkan bahwa manusia sekarang banyak yang tidak mementingkan proses suatu hal lalu mementingkan dirinya sendiri.
Manusia hanya bisa menilai tanpa bisa melihat ada keburukan apa yang ada dibelakang punggungnya, manusia yang tidak lebih tinggi dari pohon mangga ini, terkadang masih sering merasa angkuh dan lupa bahwa dia pun diciptakan dari tanah dan akan kembali pula ditanah, jadi apa yang bisa kita banggakan?
Jawabannya hanya 1, yaitu sifat intropeksi yang telah dianugerahkan oleh Sang Maha Pencipta yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya selain manusia dan itulah yang seharusnya bisa kita tempa secara terus menerus, karena jika manusia sudah lihay ber-intropeksi diri dia bisa lebih memasuki rasa manusiawi secara damai, jangan melihat ke orang lain tapi lihatlah ke diri kita sendiri. Maka dari itu cerminpun diciptakan, bukan hanya untuk melihat paras kita saja tetapi cermin sebenarnya memiliki filosofi tersendiri yang begitu dalam jika kita menghayatinya.   


                                                                                                 

Minggu, 31 Juli 2016

Madura dan perkembangan medianya



Jika kita membicarakan media, akan sangat menarik sekali memang karena pada realitanya sekarang ini rutinitas manusia pun tidak akan pernah lepas dari yang namanya peran media sebagai alat bantu di dalam kehidupannya di era modern. Peran media bisa sangatlah kita rasakan di dalam kehidupan sehari-sehari contohnya saja internet yang menjanjikan suatu informasi secara cepat dan tidak mempersoalkan masalah jarak tempuh didalamnya lalu dengan penggunaannya yang cukup mudah, segala macam lapisan masyarakatpun bisa mengakses secara mudah.
Media sendiri menurut Syaiful Bahri Djamarah merupakan suatu alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan dan jenis-jenis pun bermacam mulai dari media visual, media audio maupun media audio visual. Jadi jika kita pandang secara umum media merupakan suatu alat bantu manusia baik itu berbentuk fisik maupun nonfisik yang memiliki kegunaan dalam menyampaikan informasi.
Seperti kegunaannya sendiri, media hadirnya pun tidak semerta-merta hadir begitu saja tanpa adanya perkembangan didalamnya, mulai dari ketika manusia hanya mengenal yang namanya media melalui komunikasi secara verbal maupun non verbal, lalu media melalui surat kabar sampai dengan pada saat ini yaitu melalui media internet dan sejarah peradaban Indonesia pun tak terlepas dari peran media di dalamnya.
Lalu jika kita persempit lagi ranahnya, peran media khususnya media cetak yang ada di Indonesia terutama peran media yang ada di Madura, perannya (baca: media) memang sangatlah besar dalam membentuk suatu opini publik didalam lapisan masyarakat Madura. Mulai dari penyampaian aspirasi masyakarat sampai dengan pemberitaan yang menyangkut segala permasalahan yang ada di masyarakat Madura itu bisa kita lihat tiap harinya melalui koran dari berbagai surat kabar.
Namun jika kita menggunakan perspektif sosiologis untuk melihat perkembangan media yang ada di Madura memang sangatlah kompleks. Karena pulau Madura sendiripun terdiri dari empat kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan juga Sumenep. Dari setiap kabupaten iklim dari media cetaknya  sendiripun berbeda-beda, hal itu disebabkan arus informasinya yang berbeda pula, system birokrasi yang tidak bisa di samakan satu dengan lainnnya, dan juga tokoh masyarakat yang berpengaruh di sekitar kabupaten-kabupaten tersebut jadi perkembangan media didalamnya pun juga ikut berbeda pula. Dengan demikian perlu adanya suatu indikasi umum untuk dapat bisa mempermudah kita dalam menganalisis perkembangan media yang ada di Madura.
 Media yang ada di Madura yang memiliki imbas yang cukup terasa di lingkungan masyarakat sebenarnya adalah media internet dan juga media cetaknya. Jadi jika ambil satu contoh yaitu media cetaknya, perkembangannya pun sudah cukuplah besar terutama yang yang ada di Kabupaten bangkalan hal ini tandai dengan adanya peguyuban wartawan yang kurang lebih terdapat di alun-alun kota Bangkalan lalu geliat dari Pers Kampusnnya sendiri sebagai media alternatif tidak bisa terlepas perannya didalam menciptakan suatu opini masyarakat secara massif. Lantas seperti layaknya dua mata pisau yang bisa mengarah pada dua permasalahan disatu sisi memiliki sisi positif dan juga sisi negatif. Sisi positifnya semakin banyak pilihan media yang ada di masyarakat Madura yaitu media internet dan juga media cetak semakin luas juga sudut pandang yang di peroleh oleh masyarakat untuk bisa menilai suatu informasi, Namun sisi negatifnya adalah tidak bisa di pungkiri bahwa adanya persaingan antara media koran dan juga media berita online.
Karena keduanya memiliki sisi keunggulannya sendiri, media online dengan informasinya yang bisa kita akses secara real time dan juga media cetak dengan informasinya yang lebih matang juga lugas jadi adanya suatu kebingungan masyarakat untuk bisa memilih mana sebenarnya informasi yang bisa di percaya, dan hal itupun ditakutkan dapat memicu adanya suatu konflik didalam masyarakat karena tidak dapat pungkiri setiap pribadi di lingkungan  masyarakat Madura sendiripun berbeda-beda pula kapasitasnya didalam menyikapi suatu informasi yang mereka dapatkan.
Jadi tahap awal kitadalam menyikapi hal ini adalah perlu adanya pengenalan kembali kepada masyarakat tentang apa saja perkembangan media yang di Madura sendiri, dan bagaimana seharusnya sikap kita sebagai masyarakat dalam menyikapi hal tersebut dengan harapan masyarakat sendiri akhirnya bisa pandai-pandai memfilter dan menilai mana berita yang dibutuhkan didalam masyarakat itu sendiri untuk memperoleh informasi secara lebih bijak 


**Jangan Terlalu serius

Kamis, 14 April 2016

Petuah dari Raden Ajeng.



Minggu, 10/4/2016

Kala melihat seorang wanita yang sedang menyusui anaknya apa yang kalian pikirkan? Ya, mungkin secara umum pikiran kita langsung berpikir bahwa itu wajar-wajar saja karena memang sudah kodratnya seperti itu. Namun apabila melihat wanita yang sedang berbicara lantang di depan umum sambil meneriakkan aspirasinya atau wanita yang sedang merenung sepi dengan sebatang rokok di tangannya lalu apa yang kalian pikirkan? Tentu saja akan ada sedikit yang mengganjal di opini kita bukan? Karena memang stigma yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat konfensional yang ada di Indonesia memandang bahwa wanita adalah jenis manusia nomor 2 dalam hal tenaga dan juga hak didalam menentukan nasipnya. Coba bila kita bandingkan dengan lelaki yang memiliki ranah asasinya lebih luas dalam bergerak dan menentukan jalan hidupnya sendiri dan bebas memilih pola hidup yang mana apakah ingin putih bagai priyayi atau abu-abu bagai pengembara.
Sebenarnya, semua wanita tidak bisa kita samakan cara pandangnya dan hal ini memang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan juga faktor kebiasaannya lalu di tambah dengan pengalaman hidupnya yang sudah mereka jalani. Jangan samakan dengan era romawi kuno yang memandang bahwa wanita hanya menjadi objek selangkangan bagi kaum adam dan juga budak yang bisa di perjual belikan, contohnya saja di negeri Mesophia yang seluruh wanitanya harus menggunakan rantai di lehernya agar mudah untuk di tarik oleh majikannnya.
Lalu bumi pun seperti layaknya seorang bayi yang akan terus berkembang kebudayaan dan juga hegemoni pola pikirnya. Sekarang, sudah banyak wanita yang tak ingin dianggap remeh oleh lelaki. Wanita sedikit demi sedikit mendobrak kebiasaan stigma masyarakat yang menganggap mereka lemah, lihat saja RA. Kartini dengan konsep emansipasi wanitanya, beliau memiliki harapan bahwa wanita khususnya wanita Jawa lebih bisa berpikir secara luas untukn dapat memilih jalan hidupnya sendiri dan masih banyak wanita-wanita lain yang mencetak sejarahnya dalam mendobrak pandangan miring lainnya bahwa wanitapun tidak boleh di pandang sebelah mata oleh kaum lelaki.
Tetapi konsep emansipasi wanita pun jangan kita pahami dengan tergesa-gesa, karena jika kita membicarakan soal gender (baca:emansipasi) disitu ada satu hal yang harus kita tekankan yaitu, permasalahan kodrati. Kodrat laki dan perempuan tidak bisalah kita bolak-balik, lelaki tidak akan bisa melahirkan dan wanita sendiripun tidak akan bisa hamil jika tidak ada seorang pria. Jadi konsep emansipasi wanitapun harus dalam ruang pola pikirnya saja dan juga hak kehidupannya. Jika lelaki wajar saja untuk merokok lalu kenapa jika wanita yang merokok akan mendapatkan stigma yang jelek di masyarakat? Hal ini memang sedikit banyak di pengaruhi oleh suatu kebiasaan yang mengakar, tapi akan sedikit kejam jika wanita yang merokok jadi suatu indikator buruk kalau wanita itu adalah wanita yang tidak baik. Ini hanyalah sebagian kecil saja pandangan diskriminatif masyarakat yang di terima oleh kaum wanita bahwa mereka (baca:wanita) lebih mudah di anggap remeh ketimbang kaum laki-laki.
Jadi konsep emansipasi wanita itu perlu sedari dini ditanamkan didalam diri wanita, karena pada hakekatnya permasalahan gender ini hanyalah perbedaan kodrat saja antara lelaki wanita dan perempuan, tetapi untuk masalah yang lain semestinya janganlah dipermasalahkan, asal tidak menyalahi kodrat manusia itu sendiri yang harus saling mengasihi antara lelaki dan perempuan, konsep emansipasi wanita harus kita pahami bahwa setiap wanita memiliki hak hidup yang sama dengan lelaki tanpa adanya penindasan hak di salah satu pihaknya. Dengan demikian jelas sudah apa yang di ajarkan oleh RA. Kartini yang mempunyai pokok pemikiran bahwa jika lelaki memiliki hak yang luas untuk mengekspresikan dirinya secara wajar lalu kenapa wanita tidak?

Minggu, 29 November 2015

Numpang Nampang Pers Kampus

Jika Anda seorang jutawan yang sudah pasti memiliki  uang banyak, sah-sah saja jika Anda membuat rumah produksi kecap sendiri, dengan jargon “Kecap Nomor Wahid” dan  jangan lupa juga memajang diri Anda besar-besar dibotol kecap.  Sekarang, hanya tinggal menyebarluaskan saja kecap buatan pribadi itu ke khalayak banyak dengan menggunakan jargon di atas.
Selanjutnya tinggal pengamatan dan lidah masyarakatlah yang menilai mana yang benar-benar kecap nomor satu atau mana kecap yang hanya nomor satu dalam hal pencitraan saja. Hal ini pun bukan hanya ditemui di persaingan produk kecap saja, tetapi jika kita menganalisis ke dalam realitas yang ada, kejadian seperti ini juga sering terjadi di lingkungan masyarakat (baca: kampus)
Begitu banyak yang mencitrakan diri sebagai “aku adalah nomer satu di semua bidang” dan merasa otoriter, padahal buku-buku yang baru mereka baca hanyalah baru sampai majalah Bobo (analogi saja) sampai-sampai merasa pongah dengan orang lain dan lupa dengan ilmu padi.
Sungguh ironis bukan? Tetapi hal ini memanglah realita kalau saja kita peka menganalisis setiap gerak-gerik individu yang ada di lingkungan kita. Memang tak ada larangan jika seseorang menganggap dirinya lebih baik daripada teman sebayanya, tapi ingat hal itu pun harus dibarengi oleh proses dia dalam belajarnya juga. Karena hakekatnya, jika seseorang itu sudah memiliki wawasan yang luas pasti akan merasa kecil sebab sudah terlalu banyak hal yang mereka ketahui, bukannya malah angkuh dan sampai-sampai lupa bahwa dia berasal dari tanah lalu akan kembali lagi ke tanah jua.
Hal ini pun terkadang (telah) sering terlupakan oleh pers kampus, yang katanya lebih mengedepankan proses dalam mencari wawasan. Dalam dialog pojok kampung memang tidak ada larangan jika seseorang mencari suatu eksistensi di suatu bidang yang sedang ia geluti, tetapi eksistensi yang berlebihan pun tidak baik karena suatu hal yang berlebihan pasti tidak akan baik, ingat konsep makan garam.
Terkadang miris melihat jika ada pewarta kampus yang tidak konsisten dengan metode pencarian beritanya, yang mana hanya mengedepankan pandangan subjektif sang pewarta terhadap suatu hal, padahal pada pendidikannya sang pewarta kampus sering dididik oleh pandangan objektif dalam melihat suatu fenomena, perlu digarisbawahi bahwa wartawan kampus bukanlah hakim yang menentukan itu benar atau salah, wartawan kampus bukan hanya bisa mengkritik suatu kebijakan tapi juga sebaiknya dapat memberikan solusi, dan tambahan organisasi pers kampus bukanlah ladang untuk oknum pers dalam hal mencari eksistensi diri secara seradak-seruduk, tetapi sebagai sarana kajian yang mengedepankan aspek wawasan secara bertahap yang berfokuskan pada individu pers kampus itu sendiri.
Jika kita melihat kinerja pers kampus sendiri, memang porsinya didalam intensitas pencarian berita tidak dapat disamakan dengan pers umum yang biasanya sudah terjun ke media sungguhan, karena memang organisasi pers kampus dapat dijadikan suatu simulasi kerja jika seorang mahasiswa itu tertarik didalam dunia pencarian berita. Bagaimana nanti sang pewarta kampus itu bisa menjadi sukses jika dalam ranah simulasi saja sudah tidak fokus. Jangan jadikan embel-embel pers kampus sebagai tempat untuk menaikkan eksistensi, karena ingat, di dalam organisasi pers kampus itu bukan hanya ada satu atau dua orang saja tetapi disitu ada tim yang bekerja secara bersama-sama.

Jadi kembali lagi analogi kecap tadi, kita boleh saja mencari eksistensi diri sebanyaknya menggunakan suatu media, tetapi ingat jika eksistensi itu datang jika pribadi sang pers kampus itu sudah memiliki suatu prestasi dalam dirinya karena jika kita membicarakn suatu organisasi pers kampus, pasti tidak akan lepas dari segi kualitas diri wartawan kampus itu sendiri, selebihnya tinggal lingkungan masyarakatlah (baca:kampus) yang menilai kinerja pers kampus itu sendiri, simple bukan?

Senin, 12 Oktober 2015

Resensi Buku Atheis


Karangan : Achdiat M. Miharja

Manusia adalah makhluk yang tidak akan lepas dari pelukan tuhan meskipun akalnya sudah bisa mengetahui segala hal yang ada didunia, karena pada hakekatnya manusia merupakan makhluk religius (Aditya Rio Rahmansyah).
Sebuah novel sastra klasik yang diciptakan dari tangan Achdiat M. Miharja yang menceritakan seorang tokoh yang bernama hasan yang awalnya adalah seorang yang sangat religius, tetapi dikarena hasutan dan juga ajaran dari teman-teman diskusinya yang bernama Rusli dan Anwar.
Plot cerita yang beralun mundur itu, sangat memberikan nuansa lain bagi para pembacanya. Bermula pada halaman awal yang menceritakan tokoh hasan yang membuat sebuah tulisan tentang perjalanan hidupnya dari kehidupannya dimasa kecil yang sangat taat beragama, sampai akhirnya disuatu pertemuannya yang tak sengaja di suatu instansi pemerintahan, dia bertemu dengan teman lama yang bernama Rusli, dari situlah itu rutin bertemu dan diskusi dengan Rusli yang notabene adalah seorang sosok yang sangat mengedepankan pola pikir yang rasional dan kritis terhadap suatu hal yang menurut ia masih sangat klise terutama tentang agama. Pada awalnya Hasan pun menolak semua retorika dan penjelasan Rusli tentang pandangan terhadap Tuhan, tetapi pada akhirnya iapun termakan juga oleh pemikiran yang dianut oleh sahabat lamanya tersebut. Pergulatan batinpun akhirnya sangat dirasakan Hasan terutama disaat ia dikenalkan lagi oleh teman Rusli yang lebih memiliki pemikirannya jauh lebih radikal ketimbang Rusli.

            Latar suasana dalam buku ini disajikan dengan nuansa abad 20,  dimana pada saat itu Indonesia masih dijajah oleh bangsa Belanda  dan para kalangan kaum mudanya disusupi oleh suatu pemikiran atau golongan yang sebut “frijdenker” atau faham atheis. Dengan gaya penulisan sastra klasik yang menjadikan buku ini semakin unik, penuturan yang lugas dan juga sedikit jenaka menjadikan butuh ini tidak monoton dan juga membuat pembaca menjadi semakin penasaran untuk menamatkan membaca buku ini sampai tuntas.

Resensi Buku Pintu Terlarang

Judul Buku: Pintu Terlarang
Penulis: Sekar Ayu Asmara
Tebal: 241 halaman
Cetakan: 1, Mei 2004
Penerbit: PT. Andal Krida Nusantara



Perfectin, perfection, perfection tiga kata kunci dalam meraih keberhasilan hidup yang kita inginkan (Pintu Terlarang/2004)

Sebuah novel yang mengajarkan kita tentang bagaimana kekuatan imajinasi manusia tidaklah terbatas, bahkan orang gila pun yang kita anggap tidak bisa berpikir secara waras juga memiliki sebuah imajinasi yang hebat dan hal itu dicerita dalam alur novel ini.

Gambir, dalam tokoh utama ini diceritakan sebagai sebuah seniman yang hebat, dari tanganlah tercipta banyak patung yang bernilai jual tinggi, banyak hal unik lain yang akan terjadi dalam alur cerita didalamnya yang menurut penulispun tidak dapat ditebak sebelum.

Novel besutan  Ayu Sekar Asmara ini sangatlah unik dalam segi alurnya dan memotivasi saya sampai buku ini habis. Dengan bahasa yang tidak begitu ngejelimet, novel ini sukses memberikan suatu pelajaran bahwa didalam teknik kepenulisan pun seorang penulis bisa membuat strategi dalam alur cerita novelnya

Dengan tebal 241 halaman, buku ini menyuguhkan banyak kejutan-kejutan didalamnya. Sekar penulis dalam buku ini menggulirkan kisahnya menggunakan tiga perspektif. Pertama, dari perspektif Ranti (orang pertama) yang menceritakan investigasinya terkait seorang lelaki gila yang terkurung dalam sel isolasi. Kedua, dari perspektif si lelaki gila (orang pertama) yang mengurai kehidupan mengenaskan yang dialaminya. Cerita si lelaki gila ini dicetak miring, kecuali bagian pamungkas (bab 38). Ketiga, kisah Gambir dan Talyda, diceritakan dari sudut pandang orang ketiga. Mencapai penghujung novel, ketiga cerita ini akan berkelindan menghasilkan twist yang menggetarkan. 

Novel ini menegaskan kualitas Sekar sebagai pengarang brilian yang mampu mengaduk-aduk emosi dan pikiran pembaca. Hal serupa ditampakkannya dalam film Belahan Jiwa yang skenarionya ia tulis sendiri. Belahan Jiwa mengisahkan persahabatan empat perempuan yang terlibat asmara dengan seorang lelaki yang sama. Kisah dalam film ini diakhiri dengan sebuah twist ending yang tidak terlupakan. Efek yang ditimbulkan membaca Pintu Terlarang hampir sama dengan efek yang dihasilkan menonton Belahan Jiwa. Kita harus menyimak tuntas kisahnya sebelum pemahaman terbentuk di dalam benak. Dengan gesit, Sekar berhasil mengggiring drama psikologis menjadi thriller yang mengguncang.

Lantas pantaslah jika novel inipun pernah di angkat ke layar lebar yang di sutradarai oleh Joko anwar, Buku yang di terbitkan oleh  PT. Andal Krida Nusantar dengan cetakan pertama pada tanggal 1 mei 2004 dan mendapatkan respon yang baik dari pembaca


Hal yang paling dalam novel ini bahwa sang penulis ingin menegaskan bahwa perlu adanya didikan yang intens dalam mendidik seorang anak dan janganlah menggunakan perlakuan kasar dalam mendidiknya, karena hal itu dapat membuat suatu memori kelam dalam diri anak itu sendiri hal itulah yang terjadi dalam masa kecil Gambir tokoh dalam buku ini yang sebenarnya memiliki pengalaman buruk didalam masa kanak-kanaknya.