7 juli 2015
Sudah lumayan lama aku
tidak menulis suatu hal yang ada disekitar lingkungan saya, alasannya mungkin
masih sangat klise yaitu, malas. Tetapi aku pun baru sadar ternyata malas
itupun ada batasnya dan pasti punya titik jenuh. Lihat saja dari gaya
penulisanku yang sekarang sudah mulai miskin kosakata, tangan yang mulai kaku
tuk mengetik satu ataupun dua paragraph, otak yang sudah mulai tak terbiasa tuk
mencari kata-kata yang sesuai dengan realita yang sedang dirasakan.
Tepat di usiaku yang
sekarang sudah memasuki kepala dua alias 20 tahun rasanya ingin sekali aku
untuk berintropeksi diri dan menguliti diri sendiri apakah masih ada kekurangan
yang harus aku rubah. Memang manusia tidak akan pernah bisa menemui
kesempurnaan karena, kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta langit dan bumi.
Lantas bagaimana semangat yang dulu menggebu-gebu ingin merubah suatu persepsi
tentang keadaaan? Jawabannya mungkin hanya jiwaku yang bisa menjawab secara
total.
Pertemanan pun tak jauh
dari kata meningkat, memang suatu proses menuju pencarian jatidiri memanglah
susah. Banyak kawan yang tadi akrab menjadi hilang, yang tadinya selalu bersama
menjadi memilih berjalan tuk sendiri-sendiri, apakah ini adil? Sangat adil aku
rasa, karena sebuah proses yang mendapatkan cobaan yang begitu berat maka
hasillnya pun akan sepadan.
***
Miris rasanya jika
melihat blogku ini, sama seperti judulnya beranda usang, berdebu dikarenakan
sudah lama ditinggal dan tak disinggahi oleh si penunggunya. Aku pernah
berpikir jika kapasitas dari mahasiswa ditentukan oleh dari cara dia
menyampaikan maksudnya melalui kata-kata, tetapi aku? Aku hanya tajam didepan
dan lantas tumpuk kebelakang.
Asap rokokpun tak
habis-habisnya aku hisap dan hanya bisa membuat 253 kata saja, ironis memang,
makanya jika ada orang yang bisa menjaga ideologinya tanpa sekalipun surut
semangatnya itulah yang disebut dengan manusia ajaib.
Mau dibawa kemanakah
tulisan ini? Mau diapakan kah tulisan ini? Mungkin hanya akan menjadi spam yang
tidak berharga dimesin pencarian google. Sampah yang lantas akan di buang dan
tak berharga lagi.
Jika
kita berbicara tentang kedalaman makna dari manusia memanglah susah, manusia
yang dibekali dengan akal dan pikiran bisa saja sama bodohnya dengan binatang
yang tak punya akal jika dia sudah mulai lupa dengan prinsipnya sebagai
manusia. Manusia yang dibekali dengan etika sewaktu-waktu akan lupa dengan
dirinya jika dia memiliki etika.
Lantas bagaimana dengan
prinsipku yang sudah kubuat dengan matang-matang kemarin? Jawabannya mungkin
tinggal menunggu waktu saja, waktu yang seiring bom waktu yang terus berdetak
dan menghasilkan suatu kesadaran bahwa manusia diciptakan untuk belajar. Ya,
belajar tentang suatu kebaikan.
