Keadaan
sekitar yang membuatku seperti ini, keadaan sekitar pula yang membuatku seakan
merasa matang sebelum dewasa, terkadang memang manusia gampang untuk merasa pongah dengan apa
yang sudah dia dapatkan sekitarnya tanpa menyadari bahwa dia tidaklah hanya
sebutir debu jika di lihat dari tatasurya yang tak menentu ujungnya.
Ya, memang tak akan ada habisnya jika kita membahas manusia, mamalia yang
menggunakan kedua kakinya untuk berjalan, makhluk yang dianugerahnya otak yang
hanya ia pakai sekitar 3% tetapi sudah bisa merusak bumi begitu hebatnya
begitupun sebaliknya. Namun pada realitanya manusiapun di berikan anugerah
yaitu “gampang
lupa,” oleh sebab itu terkadang manusia sering lupa apa tujuan hidupnya dan
hanya mengikuti arus kehidupan yang terkadang menyesatkan. Tanya saja coba,
sebenarnya dari milyaran tahun bumi diciptakan dan akhirnya terciptannya
manusia, lalu sebenarnya apa tujuannya? Aku pun tak bisa menjawabnya.
Apalagi
ditambah dengan perputaran arus dilema kehidupan yang semakin mengerikan ini,
yang dimana manusia dituntut untuk bisa menguasai salah satu dari sekian banyak
keahlian dimuka bumi tetapi yang aku bingungkan kalau hasilnya seperti itu,
kenapa dari kecil kita dituntut untuk belajar segala macam pelajaran?
Ini
sebenarnya hanya keresahan diriku saja, masih banyak pertanyaan-pertanyaan
didalam pikiranku yang sering menghantui, dan ada tujuan apa aku diberikan
kodrat sebagai manusia pula. Rasa gundah akan sebenarnya apa yang pada nyatanya
manusia memang harus terus belajar tetapi realitanya sekarang ilmu pengetahuan
hanya dijadikan ajang untuk tujuan orang-orang tertentu saja. Tidak ada ilmu
pengetahuan murni yang terlepas dari adanya kepentingan didalamnya, berbeda jika
pada saat manusia masih sering mengalami pengalaman catarsis di
kehidupannya. Sekarang, sungguh hebat manusia sudah dibanjiri oleh segala macam
informasi yang bisa didapatkan secara instan, jadi bisa kita simpulkan bahwa
manusia sekarang banyak yang tidak mementingkan proses suatu hal lalu
mementingkan dirinya sendiri.
Manusia
hanya bisa menilai tanpa bisa melihat ada keburukan apa yang ada dibelakang
punggungnya, manusia yang tidak lebih tinggi dari pohon mangga ini, terkadang
masih sering merasa angkuh dan lupa bahwa dia pun diciptakan dari tanah dan
akan kembali pula ditanah, jadi apa yang bisa kita banggakan?
Jawabannya
hanya 1, yaitu sifat intropeksi yang telah dianugerahkan oleh Sang Maha
Pencipta yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya selain manusia dan
itulah yang seharusnya bisa kita tempa secara terus menerus, karena jika
manusia sudah lihay ber-intropeksi diri dia bisa lebih memasuki rasa manusiawi
secara damai, jangan melihat ke orang lain tapi lihatlah ke diri kita sendiri.
Maka dari itu cerminpun diciptakan, bukan hanya untuk melihat paras kita saja
tetapi cermin sebenarnya memiliki filosofi tersendiri yang begitu dalam jika
kita menghayatinya.


