Minggu, 23 Agustus 2015

Kepentingan Bunglon

“Seekor bunglon kemarin memberikan suatu pelajaran hidup yang sangat berharga bagi penulis, bunglon itu memiliki ukuran yang sangat besar, seukuran manusia kira-kira. Bahwa manusia didunia ini memang banyak jumlah, bahkan data sensus penduduk pun masih sering keliru untuk menghitungnya tetapi, memang pada akhirnya manusia akan hidup dalam kesendirian. Harta, benda, keluarga, adik, kakak, gadget, pacar, TTM itu semua hanyalah sementara. Lahir sendirian kemuka bumi dan akhirnya matipun akan sendirian dalam perut bumi”

Bumi masih saja terus berputar tanpa pernah merasa pusing dikarenakan berputar terus menerus, udara pagipun masih mesra-mesranya memeluk kesejukan dengan embun paginya. Suara ibu-ibu penggiat hidup sehat mulai sibuk mondar-mandir disetiap jalan. Begitupun tak ketinggalan saya yang sekarang sekarang sedang sok sibuk mengaduk-aduk kopi.

Entah mengapa terbesit diotak saya tentang sebuah nasehat dari seorang guru besar saya  yang sekarang berada di suatu daerah pelankolia, yaitu ayah saya. Bahwa sebuah kehidupan itu pada dasarnya itu sendirian. Awalnya saya tidak mengerti apa sebenarnya dasar ayah saya memberi nasehat seperti itu.

Padahal banyak motivator-motivator yang memberikan nasehat bahwa hendaknya kita haruslah banyak memiliki rekan, baik dalam hal rekan sepermainan sampai rekan dalam menjalani hidup. Dikarenakan pengalaman hidup saya yang masih dangkal, akhirnya sayapun hanya menyikapi nasehat ayah saya dengan anggukan kepala yang penuh dengan kebingungan.

Memang jika kita melihat kehidupan didunia ini memang banyaklah sebuah keganjilan dan juga manipulasi kepentingan. Lebih dari 19 tahun saya hidup saya masih bingung bagaimana mendeskripsikan kehidupan ini. Benar, lagi-lagi soal kepentingan yang saya singgung, karena Cuma karena kepentinganlah terkadang seseorang bisa lupa dengan sikap budi luhur yang katanya sudah diwarisi dari nenek moyang kita yang katanya seorang pelaut itu.
Berkat kepentingan lah seorang maling kundang bisa durhaka terhadap orang tuanya,, karena kepentinganlah seorang dosen mau mengajar didalam kampus, karena kepentingan jugalah terkadang manusia memuji orang lain, bahkan perilaku kepentingan itulah yang kadang-kadang menjadikan manusia memiliki banyak topeng. Sama halnya dengan teori berpakaian, orang pasti akan memilih baju yang paling bagus untuk menghadirkan suatu citra yang baik juga katanya.

Tapi terkadang manusia sering tergelincir dalam kemunafikan, sulit tuk membedakan mana yang kebaikan murni mana kebaikan yang dilakukan atas dasar kepentingan. Dalam kata lain manusia adalah seorang mahkluk hidup yang dikarunia akal dank arena akal itulah terkadang manusia sering mengakal-akali bagaimana tuk bisa mensukseskan kepentingan pribadinya.

Lantas kenapa manusia pada akhirnya akan hidup sendiri? Karena memang tidak akan ada manusia yang akan menolongnya dengan murni baik itu teman, maupun siapa sajalah yang ada dibumi ini dan memang realitanya seperti itu. Tetapi jangan lihat kesendiriannya, tapi lihatlah apa yang bisa kita kerjakan dalam kesendirian itu tuk bisa memberikan kebaikan oleh orang lain. Tidak apik rasanya jika kita yang tercipta dari tanah tapi berlaku seperti langit yang tinggi. Apakah dunia ini kejam kawan? Saya rasa tidak selama kita masih mengingat orang tua terutama ibu.

Karena cuma orang tualah yang memiliki kebaikan tulus untuk hidup kita, cuma ibulah yang memiliki budi luhur tentang suatu kesantunan, ibulah yang mengajarkan kita tentang bagaimana memakai celana, bukan orang lain. Orang tua lah yang selalu rella bangun malam cuma untuk mendoakan anak agar selalu santun dalam hal memilih jalan hidup, bukannya pak ustad. Diluar dari garis keturunan, hanya keluarga ayah, ibu, kakak, adik yang sanggup menemani hidup kita. Jadi diluar itu semua minim sekali bisa kita dapati sebuah kebaikan yang benar-benar tulus dan murni. Layaknya seperti rokok, harus dibakar dahulu biar berfungsi sama halnya dengan kehidupan harus menerima kepahitan dulu supaya dapat belajar mengecap rasa manis. Makanya manusia lain hanya membentur kita bermasalahan hidup dan jika ingin menerima pembelajaran tentang hidup hanya ayah yang bisa, dan cuma ibulah yang punya kebaikan murni, bukan yang lain apalagi pacar.