Kamis, 14 April 2016

Petuah dari Raden Ajeng.



Minggu, 10/4/2016

Kala melihat seorang wanita yang sedang menyusui anaknya apa yang kalian pikirkan? Ya, mungkin secara umum pikiran kita langsung berpikir bahwa itu wajar-wajar saja karena memang sudah kodratnya seperti itu. Namun apabila melihat wanita yang sedang berbicara lantang di depan umum sambil meneriakkan aspirasinya atau wanita yang sedang merenung sepi dengan sebatang rokok di tangannya lalu apa yang kalian pikirkan? Tentu saja akan ada sedikit yang mengganjal di opini kita bukan? Karena memang stigma yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat konfensional yang ada di Indonesia memandang bahwa wanita adalah jenis manusia nomor 2 dalam hal tenaga dan juga hak didalam menentukan nasipnya. Coba bila kita bandingkan dengan lelaki yang memiliki ranah asasinya lebih luas dalam bergerak dan menentukan jalan hidupnya sendiri dan bebas memilih pola hidup yang mana apakah ingin putih bagai priyayi atau abu-abu bagai pengembara.
Sebenarnya, semua wanita tidak bisa kita samakan cara pandangnya dan hal ini memang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan juga faktor kebiasaannya lalu di tambah dengan pengalaman hidupnya yang sudah mereka jalani. Jangan samakan dengan era romawi kuno yang memandang bahwa wanita hanya menjadi objek selangkangan bagi kaum adam dan juga budak yang bisa di perjual belikan, contohnya saja di negeri Mesophia yang seluruh wanitanya harus menggunakan rantai di lehernya agar mudah untuk di tarik oleh majikannnya.
Lalu bumi pun seperti layaknya seorang bayi yang akan terus berkembang kebudayaan dan juga hegemoni pola pikirnya. Sekarang, sudah banyak wanita yang tak ingin dianggap remeh oleh lelaki. Wanita sedikit demi sedikit mendobrak kebiasaan stigma masyarakat yang menganggap mereka lemah, lihat saja RA. Kartini dengan konsep emansipasi wanitanya, beliau memiliki harapan bahwa wanita khususnya wanita Jawa lebih bisa berpikir secara luas untukn dapat memilih jalan hidupnya sendiri dan masih banyak wanita-wanita lain yang mencetak sejarahnya dalam mendobrak pandangan miring lainnya bahwa wanitapun tidak boleh di pandang sebelah mata oleh kaum lelaki.
Tetapi konsep emansipasi wanita pun jangan kita pahami dengan tergesa-gesa, karena jika kita membicarakan soal gender (baca:emansipasi) disitu ada satu hal yang harus kita tekankan yaitu, permasalahan kodrati. Kodrat laki dan perempuan tidak bisalah kita bolak-balik, lelaki tidak akan bisa melahirkan dan wanita sendiripun tidak akan bisa hamil jika tidak ada seorang pria. Jadi konsep emansipasi wanitapun harus dalam ruang pola pikirnya saja dan juga hak kehidupannya. Jika lelaki wajar saja untuk merokok lalu kenapa jika wanita yang merokok akan mendapatkan stigma yang jelek di masyarakat? Hal ini memang sedikit banyak di pengaruhi oleh suatu kebiasaan yang mengakar, tapi akan sedikit kejam jika wanita yang merokok jadi suatu indikator buruk kalau wanita itu adalah wanita yang tidak baik. Ini hanyalah sebagian kecil saja pandangan diskriminatif masyarakat yang di terima oleh kaum wanita bahwa mereka (baca:wanita) lebih mudah di anggap remeh ketimbang kaum laki-laki.
Jadi konsep emansipasi wanita itu perlu sedari dini ditanamkan didalam diri wanita, karena pada hakekatnya permasalahan gender ini hanyalah perbedaan kodrat saja antara lelaki wanita dan perempuan, tetapi untuk masalah yang lain semestinya janganlah dipermasalahkan, asal tidak menyalahi kodrat manusia itu sendiri yang harus saling mengasihi antara lelaki dan perempuan, konsep emansipasi wanita harus kita pahami bahwa setiap wanita memiliki hak hidup yang sama dengan lelaki tanpa adanya penindasan hak di salah satu pihaknya. Dengan demikian jelas sudah apa yang di ajarkan oleh RA. Kartini yang mempunyai pokok pemikiran bahwa jika lelaki memiliki hak yang luas untuk mengekspresikan dirinya secara wajar lalu kenapa wanita tidak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar