Gemerlap kehidupan kampus yang jauh dari orang tua
terkadang membuat beberapa mahasiswa silau oleh kehidupan yang serba “wah”. Kehidupan yang sering lupa akan
mana kebutuhan primer dan juga kebutuhan sekundernya. Malah mahasiswa terkadang
hanya mementing kebutuhan sesuatu untuk mengejar sebuah nilai prestige dari nilai barang tersebut
untuk dijadikan sebagai modal sosial saja.
![]() | |
| Ilustrasi: Google |
Mahasiswa jaman sekarang lebih
mementingkan hidup hedonis tanpa berkaca pada kemampuan orang tuanya, mahasiswa
sekarang lebih memilih menjual status mahasiswanya hanya untuk ajang membodohkan
orang lain da n mendapatkan segala sesuatunya dengan cara instan. Apakah ini
sangat ironis? Tentu saja jawabannya sangat klise.
Apakah mahasiswa sekarang sudah
mulai lupa akan tugas Tri Fungsi mahasiswa yang sedari jaman Orientasi
Mahasiswa Baru sudah dilontarkan oleh setiap seniornya, atau jangan-jangan malah
masa ospek cuma dijadikan ajang menghambur-hamburkan uang Negara untuk mengejar
kebutuhan gengsi kalangan tertentu saja?
Lantas sukseslah cita-cita kaum
kapitalis yang mendoktrin pelan-pelan melalui iklan, surat media, media
televisi sebagai tubuh adalah pasar dan hampir semua dari hidup kita ini sudah
di hinggapi oleh kepentingan pasar global, apakah kita mau hanya menjadi korban
modernitas tanpa memperkuat moral kita?
Ini hanya sekedar informasi saja,
pada masa kehidupan kapitalis, saat produksi menjadi massal, maka logika
konsumsi bukanlah hanya lagi sekedar kebutuhan
saja melainkan berubah menjadi hasrat.
Maka yang dikonsumsi sekarang ini sebenarnya adalah sebuah tanda bukanlah sebuah barangnya
(Jean P. Baudrillard). Budaya poluler dan industri budaya yang seperti ini
dapat melahirkan “keputuhan palsu” ditengah” masyarakat begitu juga dengan
mahasiswa.
Kembali membahas mahasiswa, dengan
polemik penyakit budaya yang seperti ini mahasiswa diharapkan bisa memilah dan
memilih mana kebutuhan mereka dan mana
yang masih bisa dikesampingkan terlebih dahulu. Jika boleh mengambil kutipan
kata Pram ‘Seorang terpelajar harus bijak sejak didalam dalam pikiran, apalagi
terhadap perilakunya’ dan itu bisa dijadikan sebuah ideologi bagi
setiap insan mahasiswa untuk menyikapi budaya konsumtif di dalam lingkungannya.
Apalagi nyatanya mahasiswa mempunyai kebutuhan yang tidak sedikit, tetapi itu
bisa di siasati dengan perilaku yang bijak dalam memilih semua kebutuhan
pribadi.
Dengan demikian, mulailah dengan berpikir jernih dalam
memilih setiap barang yang akan dibeli apakah akan bermanfaat banyak ataukah
hanya menimbulkan kesia-siaan belaka. Karena mahasiswa notabenenya dianggap
harus unggul dalam menentukan setiap tindakannya dan juga gaya hidupnya jangan
sampai terbawa dengan perilaku hidup yang hedonis.
Sikap bijak dari setiap insan unggul
mahasiswa untuk bisa harmonis dalam
berpikir dan juga menyikapi gaya hidup
masing-masing, isi otak kita dengan ilmu-ilmu yang barokah dan tutupi
raga kita oleh barang-barang yang bermanfaat. Jika tidak, apakah kita mau hanya
menjadi sampah dari suatu budaya yang merugikan?
