Minggu,
10/4/2016
Kala melihat seorang wanita yang sedang menyusui
anaknya apa yang kalian pikirkan? Ya, mungkin secara umum pikiran kita langsung
berpikir bahwa itu wajar-wajar saja karena memang sudah kodratnya seperti itu.
Namun apabila melihat wanita yang sedang berbicara lantang di depan umum sambil
meneriakkan aspirasinya atau wanita yang sedang merenung sepi dengan sebatang
rokok di tangannya lalu apa yang kalian pikirkan? Tentu saja akan ada sedikit
yang mengganjal di opini kita bukan? Karena memang stigma yang tumbuh dalam
lingkungan masyarakat konfensional yang ada di Indonesia memandang bahwa wanita
adalah jenis manusia nomor 2 dalam hal tenaga dan juga hak didalam menentukan
nasipnya. Coba bila kita bandingkan dengan lelaki yang memiliki ranah asasinya lebih
luas dalam bergerak dan menentukan jalan hidupnya sendiri dan bebas memilih
pola hidup yang mana apakah ingin putih bagai priyayi atau abu-abu bagai
pengembara.
Sebenarnya, semua wanita tidak bisa kita samakan cara
pandangnya dan hal ini memang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan juga
faktor kebiasaannya lalu di tambah dengan pengalaman hidupnya yang sudah mereka
jalani. Jangan samakan dengan era romawi kuno yang memandang bahwa wanita hanya
menjadi objek selangkangan bagi kaum adam dan juga budak yang bisa di perjual
belikan, contohnya saja di negeri Mesophia yang seluruh wanitanya harus
menggunakan rantai di lehernya agar mudah untuk di tarik oleh majikannnya.
Lalu bumi pun seperti layaknya seorang bayi yang akan
terus berkembang kebudayaan dan juga hegemoni pola pikirnya. Sekarang, sudah
banyak wanita yang tak ingin dianggap remeh oleh lelaki. Wanita sedikit demi
sedikit mendobrak kebiasaan stigma masyarakat yang menganggap mereka lemah, lihat
saja RA. Kartini dengan konsep emansipasi wanitanya, beliau memiliki harapan
bahwa wanita khususnya wanita Jawa lebih bisa berpikir secara luas untukn dapat
memilih jalan hidupnya sendiri dan masih banyak wanita-wanita lain yang
mencetak sejarahnya dalam mendobrak pandangan miring lainnya bahwa wanitapun
tidak boleh di pandang sebelah mata oleh kaum lelaki.
Tetapi konsep emansipasi wanita pun jangan kita pahami
dengan tergesa-gesa, karena jika kita membicarakan soal gender (baca:emansipasi) disitu ada satu
hal yang harus kita tekankan yaitu, permasalahan kodrati. Kodrat laki dan
perempuan tidak bisalah kita bolak-balik, lelaki tidak akan bisa melahirkan dan
wanita sendiripun tidak akan bisa hamil jika tidak ada seorang pria. Jadi
konsep emansipasi wanitapun harus dalam ruang pola pikirnya saja dan juga hak
kehidupannya. Jika lelaki wajar saja untuk merokok lalu kenapa jika wanita yang
merokok akan mendapatkan stigma yang jelek di masyarakat? Hal ini memang
sedikit banyak di pengaruhi oleh suatu kebiasaan yang mengakar, tapi akan
sedikit kejam jika wanita yang merokok jadi suatu indikator buruk kalau wanita
itu adalah wanita yang tidak baik. Ini hanyalah sebagian kecil saja pandangan
diskriminatif masyarakat yang di terima oleh kaum wanita bahwa mereka (baca:wanita)
lebih mudah di anggap remeh ketimbang kaum laki-laki.
Jadi konsep emansipasi wanita itu perlu sedari
dini ditanamkan didalam diri wanita, karena pada hakekatnya permasalahan gender
ini hanyalah perbedaan kodrat saja antara lelaki wanita dan perempuan, tetapi
untuk masalah yang lain semestinya janganlah dipermasalahkan, asal tidak
menyalahi kodrat manusia itu sendiri yang harus saling mengasihi antara lelaki
dan perempuan, konsep emansipasi wanita harus kita pahami bahwa setiap wanita
memiliki hak hidup yang sama dengan lelaki tanpa adanya penindasan hak di salah
satu pihaknya. Dengan demikian jelas sudah apa yang di ajarkan oleh RA. Kartini
yang mempunyai pokok pemikiran bahwa jika lelaki memiliki hak yang luas untuk
mengekspresikan dirinya secara wajar lalu kenapa wanita tidak?