Minggu, 29 November 2015

Numpang Nampang Pers Kampus

Jika Anda seorang jutawan yang sudah pasti memiliki  uang banyak, sah-sah saja jika Anda membuat rumah produksi kecap sendiri, dengan jargon “Kecap Nomor Wahid” dan  jangan lupa juga memajang diri Anda besar-besar dibotol kecap.  Sekarang, hanya tinggal menyebarluaskan saja kecap buatan pribadi itu ke khalayak banyak dengan menggunakan jargon di atas.
Selanjutnya tinggal pengamatan dan lidah masyarakatlah yang menilai mana yang benar-benar kecap nomor satu atau mana kecap yang hanya nomor satu dalam hal pencitraan saja. Hal ini pun bukan hanya ditemui di persaingan produk kecap saja, tetapi jika kita menganalisis ke dalam realitas yang ada, kejadian seperti ini juga sering terjadi di lingkungan masyarakat (baca: kampus)
Begitu banyak yang mencitrakan diri sebagai “aku adalah nomer satu di semua bidang” dan merasa otoriter, padahal buku-buku yang baru mereka baca hanyalah baru sampai majalah Bobo (analogi saja) sampai-sampai merasa pongah dengan orang lain dan lupa dengan ilmu padi.
Sungguh ironis bukan? Tetapi hal ini memanglah realita kalau saja kita peka menganalisis setiap gerak-gerik individu yang ada di lingkungan kita. Memang tak ada larangan jika seseorang menganggap dirinya lebih baik daripada teman sebayanya, tapi ingat hal itu pun harus dibarengi oleh proses dia dalam belajarnya juga. Karena hakekatnya, jika seseorang itu sudah memiliki wawasan yang luas pasti akan merasa kecil sebab sudah terlalu banyak hal yang mereka ketahui, bukannya malah angkuh dan sampai-sampai lupa bahwa dia berasal dari tanah lalu akan kembali lagi ke tanah jua.
Hal ini pun terkadang (telah) sering terlupakan oleh pers kampus, yang katanya lebih mengedepankan proses dalam mencari wawasan. Dalam dialog pojok kampung memang tidak ada larangan jika seseorang mencari suatu eksistensi di suatu bidang yang sedang ia geluti, tetapi eksistensi yang berlebihan pun tidak baik karena suatu hal yang berlebihan pasti tidak akan baik, ingat konsep makan garam.
Terkadang miris melihat jika ada pewarta kampus yang tidak konsisten dengan metode pencarian beritanya, yang mana hanya mengedepankan pandangan subjektif sang pewarta terhadap suatu hal, padahal pada pendidikannya sang pewarta kampus sering dididik oleh pandangan objektif dalam melihat suatu fenomena, perlu digarisbawahi bahwa wartawan kampus bukanlah hakim yang menentukan itu benar atau salah, wartawan kampus bukan hanya bisa mengkritik suatu kebijakan tapi juga sebaiknya dapat memberikan solusi, dan tambahan organisasi pers kampus bukanlah ladang untuk oknum pers dalam hal mencari eksistensi diri secara seradak-seruduk, tetapi sebagai sarana kajian yang mengedepankan aspek wawasan secara bertahap yang berfokuskan pada individu pers kampus itu sendiri.
Jika kita melihat kinerja pers kampus sendiri, memang porsinya didalam intensitas pencarian berita tidak dapat disamakan dengan pers umum yang biasanya sudah terjun ke media sungguhan, karena memang organisasi pers kampus dapat dijadikan suatu simulasi kerja jika seorang mahasiswa itu tertarik didalam dunia pencarian berita. Bagaimana nanti sang pewarta kampus itu bisa menjadi sukses jika dalam ranah simulasi saja sudah tidak fokus. Jangan jadikan embel-embel pers kampus sebagai tempat untuk menaikkan eksistensi, karena ingat, di dalam organisasi pers kampus itu bukan hanya ada satu atau dua orang saja tetapi disitu ada tim yang bekerja secara bersama-sama.

Jadi kembali lagi analogi kecap tadi, kita boleh saja mencari eksistensi diri sebanyaknya menggunakan suatu media, tetapi ingat jika eksistensi itu datang jika pribadi sang pers kampus itu sudah memiliki suatu prestasi dalam dirinya karena jika kita membicarakn suatu organisasi pers kampus, pasti tidak akan lepas dari segi kualitas diri wartawan kampus itu sendiri, selebihnya tinggal lingkungan masyarakatlah (baca:kampus) yang menilai kinerja pers kampus itu sendiri, simple bukan?

Senin, 12 Oktober 2015

Resensi Buku Atheis


Karangan : Achdiat M. Miharja

Manusia adalah makhluk yang tidak akan lepas dari pelukan tuhan meskipun akalnya sudah bisa mengetahui segala hal yang ada didunia, karena pada hakekatnya manusia merupakan makhluk religius (Aditya Rio Rahmansyah).
Sebuah novel sastra klasik yang diciptakan dari tangan Achdiat M. Miharja yang menceritakan seorang tokoh yang bernama hasan yang awalnya adalah seorang yang sangat religius, tetapi dikarena hasutan dan juga ajaran dari teman-teman diskusinya yang bernama Rusli dan Anwar.
Plot cerita yang beralun mundur itu, sangat memberikan nuansa lain bagi para pembacanya. Bermula pada halaman awal yang menceritakan tokoh hasan yang membuat sebuah tulisan tentang perjalanan hidupnya dari kehidupannya dimasa kecil yang sangat taat beragama, sampai akhirnya disuatu pertemuannya yang tak sengaja di suatu instansi pemerintahan, dia bertemu dengan teman lama yang bernama Rusli, dari situlah itu rutin bertemu dan diskusi dengan Rusli yang notabene adalah seorang sosok yang sangat mengedepankan pola pikir yang rasional dan kritis terhadap suatu hal yang menurut ia masih sangat klise terutama tentang agama. Pada awalnya Hasan pun menolak semua retorika dan penjelasan Rusli tentang pandangan terhadap Tuhan, tetapi pada akhirnya iapun termakan juga oleh pemikiran yang dianut oleh sahabat lamanya tersebut. Pergulatan batinpun akhirnya sangat dirasakan Hasan terutama disaat ia dikenalkan lagi oleh teman Rusli yang lebih memiliki pemikirannya jauh lebih radikal ketimbang Rusli.

            Latar suasana dalam buku ini disajikan dengan nuansa abad 20,  dimana pada saat itu Indonesia masih dijajah oleh bangsa Belanda  dan para kalangan kaum mudanya disusupi oleh suatu pemikiran atau golongan yang sebut “frijdenker” atau faham atheis. Dengan gaya penulisan sastra klasik yang menjadikan buku ini semakin unik, penuturan yang lugas dan juga sedikit jenaka menjadikan butuh ini tidak monoton dan juga membuat pembaca menjadi semakin penasaran untuk menamatkan membaca buku ini sampai tuntas.

Resensi Buku Pintu Terlarang

Judul Buku: Pintu Terlarang
Penulis: Sekar Ayu Asmara
Tebal: 241 halaman
Cetakan: 1, Mei 2004
Penerbit: PT. Andal Krida Nusantara



Perfectin, perfection, perfection tiga kata kunci dalam meraih keberhasilan hidup yang kita inginkan (Pintu Terlarang/2004)

Sebuah novel yang mengajarkan kita tentang bagaimana kekuatan imajinasi manusia tidaklah terbatas, bahkan orang gila pun yang kita anggap tidak bisa berpikir secara waras juga memiliki sebuah imajinasi yang hebat dan hal itu dicerita dalam alur novel ini.

Gambir, dalam tokoh utama ini diceritakan sebagai sebuah seniman yang hebat, dari tanganlah tercipta banyak patung yang bernilai jual tinggi, banyak hal unik lain yang akan terjadi dalam alur cerita didalamnya yang menurut penulispun tidak dapat ditebak sebelum.

Novel besutan  Ayu Sekar Asmara ini sangatlah unik dalam segi alurnya dan memotivasi saya sampai buku ini habis. Dengan bahasa yang tidak begitu ngejelimet, novel ini sukses memberikan suatu pelajaran bahwa didalam teknik kepenulisan pun seorang penulis bisa membuat strategi dalam alur cerita novelnya

Dengan tebal 241 halaman, buku ini menyuguhkan banyak kejutan-kejutan didalamnya. Sekar penulis dalam buku ini menggulirkan kisahnya menggunakan tiga perspektif. Pertama, dari perspektif Ranti (orang pertama) yang menceritakan investigasinya terkait seorang lelaki gila yang terkurung dalam sel isolasi. Kedua, dari perspektif si lelaki gila (orang pertama) yang mengurai kehidupan mengenaskan yang dialaminya. Cerita si lelaki gila ini dicetak miring, kecuali bagian pamungkas (bab 38). Ketiga, kisah Gambir dan Talyda, diceritakan dari sudut pandang orang ketiga. Mencapai penghujung novel, ketiga cerita ini akan berkelindan menghasilkan twist yang menggetarkan. 

Novel ini menegaskan kualitas Sekar sebagai pengarang brilian yang mampu mengaduk-aduk emosi dan pikiran pembaca. Hal serupa ditampakkannya dalam film Belahan Jiwa yang skenarionya ia tulis sendiri. Belahan Jiwa mengisahkan persahabatan empat perempuan yang terlibat asmara dengan seorang lelaki yang sama. Kisah dalam film ini diakhiri dengan sebuah twist ending yang tidak terlupakan. Efek yang ditimbulkan membaca Pintu Terlarang hampir sama dengan efek yang dihasilkan menonton Belahan Jiwa. Kita harus menyimak tuntas kisahnya sebelum pemahaman terbentuk di dalam benak. Dengan gesit, Sekar berhasil mengggiring drama psikologis menjadi thriller yang mengguncang.

Lantas pantaslah jika novel inipun pernah di angkat ke layar lebar yang di sutradarai oleh Joko anwar, Buku yang di terbitkan oleh  PT. Andal Krida Nusantar dengan cetakan pertama pada tanggal 1 mei 2004 dan mendapatkan respon yang baik dari pembaca


Hal yang paling dalam novel ini bahwa sang penulis ingin menegaskan bahwa perlu adanya didikan yang intens dalam mendidik seorang anak dan janganlah menggunakan perlakuan kasar dalam mendidiknya, karena hal itu dapat membuat suatu memori kelam dalam diri anak itu sendiri hal itulah yang terjadi dalam masa kecil Gambir tokoh dalam buku ini yang sebenarnya memiliki pengalaman buruk didalam masa kanak-kanaknya.

Minggu, 23 Agustus 2015

Kepentingan Bunglon

“Seekor bunglon kemarin memberikan suatu pelajaran hidup yang sangat berharga bagi penulis, bunglon itu memiliki ukuran yang sangat besar, seukuran manusia kira-kira. Bahwa manusia didunia ini memang banyak jumlah, bahkan data sensus penduduk pun masih sering keliru untuk menghitungnya tetapi, memang pada akhirnya manusia akan hidup dalam kesendirian. Harta, benda, keluarga, adik, kakak, gadget, pacar, TTM itu semua hanyalah sementara. Lahir sendirian kemuka bumi dan akhirnya matipun akan sendirian dalam perut bumi”

Bumi masih saja terus berputar tanpa pernah merasa pusing dikarenakan berputar terus menerus, udara pagipun masih mesra-mesranya memeluk kesejukan dengan embun paginya. Suara ibu-ibu penggiat hidup sehat mulai sibuk mondar-mandir disetiap jalan. Begitupun tak ketinggalan saya yang sekarang sekarang sedang sok sibuk mengaduk-aduk kopi.

Entah mengapa terbesit diotak saya tentang sebuah nasehat dari seorang guru besar saya  yang sekarang berada di suatu daerah pelankolia, yaitu ayah saya. Bahwa sebuah kehidupan itu pada dasarnya itu sendirian. Awalnya saya tidak mengerti apa sebenarnya dasar ayah saya memberi nasehat seperti itu.

Padahal banyak motivator-motivator yang memberikan nasehat bahwa hendaknya kita haruslah banyak memiliki rekan, baik dalam hal rekan sepermainan sampai rekan dalam menjalani hidup. Dikarenakan pengalaman hidup saya yang masih dangkal, akhirnya sayapun hanya menyikapi nasehat ayah saya dengan anggukan kepala yang penuh dengan kebingungan.

Memang jika kita melihat kehidupan didunia ini memang banyaklah sebuah keganjilan dan juga manipulasi kepentingan. Lebih dari 19 tahun saya hidup saya masih bingung bagaimana mendeskripsikan kehidupan ini. Benar, lagi-lagi soal kepentingan yang saya singgung, karena Cuma karena kepentinganlah terkadang seseorang bisa lupa dengan sikap budi luhur yang katanya sudah diwarisi dari nenek moyang kita yang katanya seorang pelaut itu.
Berkat kepentingan lah seorang maling kundang bisa durhaka terhadap orang tuanya,, karena kepentinganlah seorang dosen mau mengajar didalam kampus, karena kepentingan jugalah terkadang manusia memuji orang lain, bahkan perilaku kepentingan itulah yang kadang-kadang menjadikan manusia memiliki banyak topeng. Sama halnya dengan teori berpakaian, orang pasti akan memilih baju yang paling bagus untuk menghadirkan suatu citra yang baik juga katanya.

Tapi terkadang manusia sering tergelincir dalam kemunafikan, sulit tuk membedakan mana yang kebaikan murni mana kebaikan yang dilakukan atas dasar kepentingan. Dalam kata lain manusia adalah seorang mahkluk hidup yang dikarunia akal dank arena akal itulah terkadang manusia sering mengakal-akali bagaimana tuk bisa mensukseskan kepentingan pribadinya.

Lantas kenapa manusia pada akhirnya akan hidup sendiri? Karena memang tidak akan ada manusia yang akan menolongnya dengan murni baik itu teman, maupun siapa sajalah yang ada dibumi ini dan memang realitanya seperti itu. Tetapi jangan lihat kesendiriannya, tapi lihatlah apa yang bisa kita kerjakan dalam kesendirian itu tuk bisa memberikan kebaikan oleh orang lain. Tidak apik rasanya jika kita yang tercipta dari tanah tapi berlaku seperti langit yang tinggi. Apakah dunia ini kejam kawan? Saya rasa tidak selama kita masih mengingat orang tua terutama ibu.

Karena cuma orang tualah yang memiliki kebaikan tulus untuk hidup kita, cuma ibulah yang memiliki budi luhur tentang suatu kesantunan, ibulah yang mengajarkan kita tentang bagaimana memakai celana, bukan orang lain. Orang tua lah yang selalu rella bangun malam cuma untuk mendoakan anak agar selalu santun dalam hal memilih jalan hidup, bukannya pak ustad. Diluar dari garis keturunan, hanya keluarga ayah, ibu, kakak, adik yang sanggup menemani hidup kita. Jadi diluar itu semua minim sekali bisa kita dapati sebuah kebaikan yang benar-benar tulus dan murni. Layaknya seperti rokok, harus dibakar dahulu biar berfungsi sama halnya dengan kehidupan harus menerima kepahitan dulu supaya dapat belajar mengecap rasa manis. Makanya manusia lain hanya membentur kita bermasalahan hidup dan jika ingin menerima pembelajaran tentang hidup hanya ayah yang bisa, dan cuma ibulah yang punya kebaikan murni, bukan yang lain apalagi pacar.    


Minggu, 05 Juli 2015

Sampah



                                                                                                  7 juli 2015


Sudah lumayan lama aku tidak menulis suatu hal yang ada disekitar lingkungan saya, alasannya mungkin masih sangat klise yaitu, malas. Tetapi aku pun baru sadar ternyata malas itupun ada batasnya dan pasti punya titik jenuh. Lihat saja dari gaya penulisanku yang sekarang sudah mulai miskin kosakata, tangan yang mulai kaku tuk mengetik satu ataupun dua paragraph, otak yang sudah mulai tak terbiasa tuk mencari kata-kata yang sesuai dengan realita yang sedang dirasakan.
Tepat di usiaku yang sekarang sudah memasuki kepala dua alias 20 tahun rasanya ingin sekali aku untuk berintropeksi diri dan menguliti diri sendiri apakah masih ada kekurangan yang harus aku rubah. Memang manusia tidak akan pernah bisa menemui kesempurnaan karena, kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta langit dan bumi. Lantas bagaimana semangat yang dulu menggebu-gebu ingin merubah suatu persepsi tentang keadaaan? Jawabannya mungkin hanya jiwaku yang bisa menjawab secara total.
Pertemanan pun tak jauh dari kata meningkat, memang suatu proses menuju pencarian jatidiri memanglah susah. Banyak kawan yang tadi akrab menjadi hilang, yang tadinya selalu bersama menjadi memilih berjalan tuk sendiri-sendiri, apakah ini adil? Sangat adil aku rasa, karena sebuah proses yang mendapatkan cobaan yang begitu berat maka hasillnya pun akan sepadan.

***
Miris rasanya jika melihat blogku ini, sama seperti judulnya beranda usang, berdebu dikarenakan sudah lama ditinggal dan tak disinggahi oleh si penunggunya. Aku pernah berpikir jika kapasitas dari mahasiswa ditentukan oleh dari cara dia menyampaikan maksudnya melalui kata-kata, tetapi aku? Aku hanya tajam didepan dan lantas tumpuk kebelakang.
Asap rokokpun tak habis-habisnya aku hisap dan hanya bisa membuat 253 kata saja, ironis memang, makanya jika ada orang yang bisa menjaga ideologinya tanpa sekalipun surut semangatnya itulah yang disebut dengan manusia ajaib.
Mau dibawa kemanakah tulisan ini? Mau diapakan kah tulisan ini? Mungkin hanya akan menjadi spam yang tidak berharga dimesin pencarian google. Sampah yang lantas akan di buang dan tak berharga lagi.
   Jika kita berbicara tentang kedalaman makna dari manusia memanglah susah, manusia yang dibekali dengan akal dan pikiran bisa saja sama bodohnya dengan binatang yang tak punya akal jika dia sudah mulai lupa dengan prinsipnya sebagai manusia. Manusia yang dibekali dengan etika sewaktu-waktu akan lupa dengan dirinya jika dia memiliki etika.
Lantas bagaimana dengan prinsipku yang sudah kubuat dengan matang-matang kemarin? Jawabannya mungkin tinggal menunggu waktu saja, waktu yang seiring bom waktu yang terus berdetak dan menghasilkan suatu kesadaran bahwa manusia diciptakan untuk belajar. Ya, belajar tentang suatu kebaikan.

Senin, 16 Februari 2015

Sajak Senja

Apa yang membuat dirimu nyaman didunia ini? memiliki banyak teman kah? Merasakan hidup ini bukan hanya sekedar bangun dan tertidur dimalam hari, merasakan  jika dunia ini begitu indah disaat ada seseorang yang menyapamu dipagi yang dingin. Suatu keindahan yang begitu sederhana tetapi membuat hariku seperti sebuah lukisan yang dipenuhi beribu warna-warna flanel yang begitu indah. Ya, sebut saja ia senja.
Tingkah lakunya syarat dengan aroma jingga, begitu misterius, gurat asa yang begitu klise dan indah akan selalu berputar-putar dikepalaku. Ia, muncul begitu saja dalam kehidupanku dari balik tembok-tembok tinggi kesunyian laksana seorang dewi Shinta yang sedang memainkan pagelaran peneduh hati. Menari-nari dan terus menari dalam sebuah keindahan yang klise,tapi saya suka. Dirinya seperti sebuah foto pemandangan yang akan selalu indah tanpa noise mmeskipun tak bisa ku sentuh dan kupeluk sosoknya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIk_RSb2IIppB4-6d17Qaiz7FYjbu7yS-qRW9ijjot_BkcF60mwhIoxLEJwt9DdESy13WzB9yzEw6K-6C7hAgxq1-JjlJxQcSg4uUbiOZUzygTi1KtpeQ82VzE_-eGv_pr-QvRgZ7fzh0/s1600/kartun.jpgTerkadang seringku terdiam dan memikirkan tentang dirinya, apakah dia nyata? Apakah ini hanya mimpi? Tak apalah jika ini mimpi asalkan itu mimpi tentang dirinya, ku akan berlama-lama tidur agar tak menghentikan mimpi itu. Seorang wanita cantik dengan biola ditangannya memainkan lagu-lagu senja, dan apakah itu tak membuat orang yang memandangnya jatuh hati padanya?
 Jelas saja jika ku terpesona, mungkin karisma yang tak bisa ku tolak jika sedang membayangkan dia, merasakannya dia dari jauh, membayangi wajahnya, berdialog senyap dan tertawa riang dengan dirinya mungkin sudah cukup untukku. Tetapi apakah nanti ku kan bertemu dengannya? Dengan ia, sosok sang senja yang selalu membuat diriku nyaman.
Tunggulah dengan sabar wahai Dewi Shinta, ku kan datang menemui bagaikan senja yang akan bertemu sang malam, bagai perahu yang sudah lama berkelana dan akan bersandar didermaga hatimu, bagaikan..ah sudahlah. Ku bukan seperti matahari yang sampai kapanpun tak akan bisa bertemu sang bulan. Tunggu aku, dengan semua keindahanmu itu, dengan semua lemah lembutmu, Biarkan nanti kita berdua menikmati bersama harum senja disore hari dan awan yang selalu berbisik tentang namamu. 

Kamis, 12 Februari 2015

Secangkir Kehidupan

Apakah yang kamu pikirkan jika mendengar kata “kopi”, sebuah minuman hitam yang memiliki cita rasanya tersendiri. Minuman yang selalu disediakan disetiap kedai-kedai kopi pinggir jalan. Selalu di sruput oleh setiap lapisan masyarakat dari yang kaya sampai si miskin, dari yang berpasangan maupun yang jomblo.  Kopi laksana teman pasif yang selalu menemani dikala waktu-waktu senggang tak ada pekerjaan.
https://iwandahnial.files.wordpress.com/2013/02/1-john-lennon.jpg
Ilustrasi : Blog Sebelah
  Terlihat sederhana tetapi memiliki nilai inspirasi tersendiri, itu mungkin yang bisa menggambar dari segelas kopi.  Kopi, minuman hitam yang memiliki rasa sedikit pahit ini jika kita resapi dengan mendalam, sebenarnya memiliki keindahan filosofinya sendiri. Sudah banyak buku-bukupun menjelaskan dari segelas kopi itu terkadang dapat menimbulkan suatu inspirasi tersendiri bagi setiap penikmatnya. Lantas bagaimana cara kita menikmati segelas kopi ini? Jawabannya  pun subjektif tergantung suasana maupun pribadi masing-masing penikmatnya.
Baik sang penikmatnya itu sedang dilanda pikiran sakit jiwapun terkadang kopi bisa sebagai penawar obat penenangnya, begitu hebat bukan dampak non medis yang diberikan dari segelas kopi apa mungkin ini hanya perasaan penulis saja yang memang notabene adalah penikmat maniac dari kopi sendiri, sedikit subjektif memang. Tapi memang dari ruang subjektifitas itu juga lapisan masyarakat yang menikmatinya sama seperti tulisan di paragraf pertama tadi.
Kopi yang dari cara penyajiannya pun beragam ada yang menggunakan mug besar, cangkir kecil yang dibawahnya disediakan piring kecil dengan bau aromanya yang khas, seolah-olah disetiap aroma tersebut siap meledakkan batu inspirasi didalam kehidupan kita ini. Jika kita amati dari segelas kopi, memang banyak sekali filosofi kehidupan yang bisa kaitkan satu dengan lainnya. Contohnya saja mengapa minuman tersebut memiliki warna hitam? Tentu seperti kehidupan pula yang  selalu memiliki banyak warna-warna yang jika dicampurkan akan menjadi warna hitam, tetapi jika kita pintar untuk menikmati hidup ini warna hitam itupun akan terasa nikmat dan indah. Rasa kopi pun beragam ada yang pahit dan juga ada yang manis dan juga yang kedua-duanya rasa itu sasling tercampur, jika kita hubungkan dengan kehidupan ini, memang benar sekali jika hidup ini pun terkadang ada rasa pahitnya dan juga manisnya, manis pahit kehidupan ini memang tidak bisa kita hindari, tetapi jika kita bisa meramunya dan juga memandang hal tersebut sebagai hal yang bisa dinikmati di kala senja dan bisa menjadikan hal pahit manis itu sebagai guru dalam kehidupan kita diwaktu mendatang kenapa tidak? Dan juga menikmati kopi pun jangan terlalu berlebihan, sama seperti halnya kehidupan ini, juga harus seimbang tidak boleh berat sebelah tidak boleh terlalu dipahit-pahitkan dan juga tidak boleh terlalu manis, karena jika terlalu manis apa nantinya tidak akan menimbulkan rasa mual, maupun penyakit diabetes?
Dari situlah banyak nilai guna dan positif dari segelas kopi jika kita menela’ahnya dari segi keterkaitan hal tersebut dengan kehidupan.  Kehidupan layaknya segelas cangkir kopi, yang dalamnya banyak sekali warna, dan juga rasa. Manusia harus kuat dengan semua rasa pahit kehidupan ini dan juga pintar dalam mengambil hal positif dari setiap masalahnya. Kopi yang mengajarkan kita bagaimana cara berpikir tenang dan tidak gegabah dalam menyikapi sebuah kehidupan. kopi akan berubah menjadi sebuah minuman yang nikmat setelah awalnya digiling dulu tuk serbuk kopi dan menjadi sebuah minuman yang kya dengan cita rasa, begitu juga kehidupan harus melewati proses dan menghargai proses tersebut, karena tidak hidup yang indah tanpa melewati sebuah proses yang panjang juga.
Hitam warna minumannya bukan berarti tidak enak juga rasanya. Jangan menilai sesuatu dari bentuk fisiknya saja. Rasakan dan nikmatilah terlebih dahulu ambil lah sisi positifnya dari setiap rasa kopi begitupun dengan rasa kehidupan ini. kehidupan ini bukan laksana bola-bola permen yang akan selalu manis dalam setiap jengkal kehidupan. Hidup ini diciptakan dengan berbagai rasa oleh sang penciptaNYA agar kita bisa menemukan rasa manisnya dikemudian hari. Layaknya kopi jika kamu baru merasakannya sekali akan terasa aneh dimulut, tetapi jika kita bisa menemukan sisi kenikmatannya sendiri dan juga filosofi yang kita dapat setelah meminum kopi, maka dunia inipun seperti secangkir kopi,  rasa pahit manisnya begitu nikmat jika kita pintar cara menikmati kehidupan ini, betul bukan, bagaimana menurut anda?