Rabu, 29 Oktober 2014

Kumpulan Orang Sakit Jiwa



         22 Oktober 2014   
                                                                                   Tulisan darurat dikantin hukum

Aku yang berdiri di tengah-tengah pergantian malam, terdiam lesu didalam renungan para dewi kepedihan. Terdengar semua rintihan manusia yang sedang malas untuk bergembira dikarenakan hatinya sedang pilu di terpa sakit jiwa akibat perlakuan seorang wanita.
Aku yang sedang berkumpul dengan energi macam itu lambat laun pun tertular juga oleh perasaan sakit jiwa tersebut, ditambah lagi baru kemarin seorang rahwana menghampiriku dan memberikanku semua bunga kamboja, begitu wangi aromanya tapi cepat sekali berubah aromanya menjadi seperti bau busuk kali Ciliwung.
Aku pun mencoba biasa saja dan berpura-pura menjadi seperti manusia normal yang ada di tivi-tivi  hape cina waktu dulu, tapi tetap saja perasaan ini begitu sakit ketika mengingat sang dewi rahwana yang mudah sekali memainkan hati seorang kasta rendah seperti diriku, dijadikannya ku seperti sandal yang bisa dia pakai kemana saja dan dia tukar dengan yang lebih bagus seperti dikala sedang solat jumat.  Oh dewi rahwana yang sekarang entah sedang berada diruang peraduan kamarnya, senyummu yang hanya bisa ku lihat dari layar hape bb ku kenapa kau jahat sekali pada seorang anak pemecah batu seperti ku ini, hatiku tak sekuat gunung Renjani yang tak akan doyong di terpa angin taifun hatiku ini laksana batu bata yang begitu rapuh kala di injak seseorang.
Orang disekelilingku mulai memperhatikanku yang sedari tadi hanya menghela napas berkali-kali, dan mereka semakin yakin akan bertambah satu lagi orang sakit jiwa yang akan berkumpul disini dikarenakan termakan omongan manis seorang wanita, mereka pun mulai tersenyum penuh kemenangan dan mulai songong tuk meraba isi kejiwaanku. Setan apakah mereka yang mulai menularkan aura negatifnya terhadapku, manusia kah mereka yang hanya mengumbar kata-kata manisnya layaknya seperti zat akspartam yang nantinya cuma meninggal rasa sakit di tenggorokan ?
Salah memang aku keluar malam-malam yang kata orang dulu bilang banyak setan yang sedang berkeliaran dan mondar-mandir di pintu masuk antara jiwa dan raga. Tetapi menurutku malam layak seperti tempat kursus yang mengajarkanku tentang ilmu yang tidak di ajarkan oleh Pak Jamal guruku saat dibangku SD dulu. Tetap malam juga terkadang sering membuat sedih dan mengerti jika raga ini sangat takut akan pekatnya ruang gelap malam.
Haaahhh, ku kembali lagi menghela napas berharap ada setitik cahaya yang akan menghampiriku dan mengajakku pergi dari lingkungan kotor ini. Tetapi ku tak bisa, aku berlahan mulai dihinggapi juga oleh penyakit jiwa ini, penyakit dimana seseorang yang tadinya gagah seperti dewapun jika disakiti oleh wanita akan berubah jiwanya menjadi seperti besi yang memuai jika di bakar oleh api penyesalan.