Selasa, 21 Oktober 2014

Akhirnya ia Kembali




26 september 2014


Membangun sebuah pondasi memang lebih susah ketimbang mempertahankan sebuah bangunannya itu sendiri. Itulah yang aku rasakan disaat aku mulai aktif kembali untuk menulis sebuah karya. Karya yang pada awalnya menjadi sebuah lelucon buat pikiranku sendiri, karena apa yang harusku tulis dengan otak yang setumpul ini?, masih pantaskah seorang seperti diriku untuk menulis sebuah karya yang mungkin akan orang baca nantinya?
            Memang dulu aku pernah menggemari tentang apa itu aktifitas menulis, tapi itu dulu pas jamanku masih sekecil anak 8 tahunan, tulisannya pun masih sangat lugu dan juga tulisannya masih berbau masa keindahan anak-anak pada umumnya. Tidak mungkinkan jika aku kembali menulis dengan tema yang sama seperti tulisan bocah yang berumur 8 tahun. Sedangkan sekarang umurku sudah mulai menginjak angka 19 tahun bisa dianggap “childist” aku nantinya. Tapi tak apalah toh memang sudah hakekatnya memulai sesuatu yang bukan kebiasaan itu pada awalnya memang sulit.
Pada awalnya memang susah ku akui untuk mendapatkan sebuah ide untuk aku jadikan bahan tuk menulis, mulai dari sering hilangnya mood disaat lagi menggarap sebuah tulisan, sampai mulai keruhlah otak saya seperti bak air yang diaduk-aduk oleh seorang yang sedang memakai MCK.
Semakin ku coba tuk menulis semakin ku sadar bahwa pengetahuan yang aku dapat kemarin masih belum ada apa-apanya rupanya. Akhirnya mulailah aku lebih banyak membaca buku-buku, mulai dari buku novel, roman, sampai bacaan tentang cerita sekspun sering aku lahap .
Dan akhirnya aku kembali, ya, kembali menjadi seorang rio lagi yang sering menulis layaknya disaat SD dulu. Mungkin memang inilah jadi diriku yang sebenarnya. Aku adalah pena yang akan selalu memahami kehidupan ini dengan gores tulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar