26 september
2014
Membangun sebuah
pondasi memang lebih susah ketimbang mempertahankan sebuah bangunannya itu sendiri.
Itulah yang aku rasakan disaat aku mulai aktif kembali untuk menulis sebuah
karya. Karya yang pada awalnya menjadi sebuah lelucon buat pikiranku sendiri,
karena apa yang harusku tulis dengan otak yang setumpul ini?, masih pantaskah
seorang seperti diriku untuk menulis sebuah karya yang mungkin akan orang baca
nantinya?
Memang
dulu aku pernah menggemari tentang apa itu aktifitas menulis, tapi itu dulu pas
jamanku masih sekecil anak 8 tahunan, tulisannya pun masih sangat lugu dan juga
tulisannya masih berbau masa keindahan anak-anak pada umumnya. Tidak mungkinkan
jika aku kembali menulis dengan tema yang sama seperti tulisan bocah yang
berumur 8 tahun. Sedangkan sekarang umurku sudah mulai menginjak angka 19 tahun
bisa dianggap “childist” aku nantinya. Tapi tak apalah toh memang sudah
hakekatnya memulai sesuatu yang bukan kebiasaan itu pada awalnya memang sulit.
Pada awalnya memang
susah ku akui untuk mendapatkan sebuah ide untuk aku jadikan bahan tuk menulis,
mulai dari sering hilangnya mood disaat lagi menggarap sebuah tulisan, sampai
mulai keruhlah otak saya seperti bak air yang diaduk-aduk oleh seorang yang
sedang memakai MCK.
Semakin ku coba tuk
menulis semakin ku sadar bahwa pengetahuan yang aku dapat kemarin masih belum
ada apa-apanya rupanya. Akhirnya mulailah aku lebih banyak membaca buku-buku, mulai
dari buku novel, roman, sampai bacaan tentang cerita sekspun sering aku lahap .
Dan akhirnya aku
kembali, ya, kembali menjadi seorang rio lagi yang sering menulis layaknya
disaat SD dulu. Mungkin memang inilah jadi diriku yang sebenarnya. Aku adalah pena
yang akan selalu memahami kehidupan ini dengan gores tulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar