Selasa, 21 Oktober 2014

“Kuntoro” bingung dengan Ta’aruf-an



                                                                                                        19 Oktober 2014


Jika ada seorang yang sedang menjadi pengisi hatimu sekarang tiba – tiba mengajakmu berta’aruf bagaimana tanggapan kamu ? Ya, inilah yang sekarang sedang saya rasakan, perasaan yang bercampur dengan rasa aneh yang sedang meliputi teras jiwa saya. Bagaimana tidak bingung, wanita yang saya idam-idamkan itu rupanya meminta satu permintaan yang menurut saya baru kali ini saya alami dan, dengan polosnya saya menyanggupi kemauannya itu. Alasan utamanya ia sih yang saya tangkap dikarenakan saya juga masih kuliah dan juga ia masih ingin melanjutkan sekolahnya diluar daerah memang usiaku dengannya terpaut lebih tua saya satu tahun, jadi mungkin wajar jika kemauan dia untuk kuliah di luar kota masih sangat kuat. Oke kembali dengan curhatan saya, seperti di sambar gledek sudah tersambar masih tertimpa tangga pula inilah yang saya rasakan ketika ia mengajak saya untuk menjalani hubungan dengan ia tapi dengan jalan ta’aruf.
Jujur bukan karena saya ini tipe laki-laki biadab (maaf) yang tidak bisa diajak ta’arufan oleh perempuan tetapi saya hanya belum mengerti saja dengan apa sebenarnya definisi dari ta’aruf itu sendiri, apakah ta’aruf pacaran yang hanya bisa memandang sang sekali kali dari tirai yang ditutupinya, atau cara pacaran tapi yang menggunakan busana muslimah agar terkesan agamis, atau ada pengertian lain yang lebih masuk akal tentang ta’aruf itu sendiri ?
*
Bentar bakar rokok dulu.
*
Kembali ke topik pembicaraan, ta’aruf, mungkin itu semacam gaya pacaran yang belum begitu populer dikalangan remaja sekarang yang notabene adalah remaja-remaja yang hedonis, tetapi se-pemahaman saya adalah suatu cara pacaran yang segala sesuatu syariatnya mengikuti ajaran agama islam mungkin bisa dibilang cara pacaran yang tidak menyimpang dari norma teologi keislaman. Tapi, sebenarnya di islampun tidak mengenal pandangan tentang yang namanya “pacaran” itu sendiri bahkan seorang ulama yang saya dengar kodbahnya di solat jum’atpun melarang keras tentang gaya hidup berpacaran itu sendiri, pacaran lebih banyak mudoradnya ketimbang hal positifnya. Hemm, memang sedikit sensitif memang jika sedang membahas tentang pacaran itu sendiri karena saya pun dan semua orangpun pernah mengalami kehidupan berpacaran mungkin juga imam yang saya dengar kodbah jum’atnya itu pun pernah mengalami romantika pacaran disaat masa mudanya dulu.
Jadi wajar saja jika manusia macam saya ini yang masih anak semester 3 jurusan sosiologi “gelagepan” jika ada seorang wanita yang ingin mengajak saya ta’arufan, apalagi dalam SKS saya tidak diajarkan tentang tipe atau model pacaran yang seperti itu karena saya pun sadar bahwa pribadi ini masih kurang sekali pengetahuan tentang keagamaan. Memang kalau berbicara tentang perasaan saya memang sayang dengan dia saya ingin memeluk dia di setiap waktu, saya ingin menggandeng dia didepan publik supaya disekiling saya bisa tahu bahwa malaikat yang sedang disembrang sana adalah milik saya tapi, apakah dengan cara kita menjalani hubungan dengan cara ta’arufan harapan itu semua akan sirna ? mungkin saja iya dan mungkin saja tidak absurt sekali bukan jawabannya.
Mungkin waktu yang bisa menjawab hubungan kita nantinya akan seperti apa, kita hanya bisa menjalaninya dengan se-serius mungkin karena menurut saya suatu hubungan itu tidak ada ada yang main-main, karena ini menyangkut soal perasaan dan perasaan juga menyangkut soal tubuh karena jika suatu perasaan dan hati seseorang sudah rusak maka manusia layaknya seperti zombie yang berjalan tanpa suatu kontrol dari dalam tubuhnya. Meskipun saya sudah berpikir keras tentang pengertian dan maksud kamu untuk menjalani hubungan kita dengan cara ta’arufan tetap saja akhirnya saya tidak mengerti tujuan dia apa sebenarnya, tapi tenang saja cinta kamu sudah terlanjur membuat saya jatuh cinta dengan dirimu, kamu sudah terlanjur membuat otak saya yang bebal ini menjadi lebih keruh dikarenakan candu asmara yang sudah kamu berikan jadi konsekuensi dari itu semua saya akan mengikuti semua yang kamu minta (ini bukan gombal,ini kenyataan). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar