19 Oktober 2014
Jika
ada seorang yang sedang menjadi pengisi hatimu sekarang tiba – tiba mengajakmu
berta’aruf bagaimana tanggapan kamu ? Ya, inilah yang sekarang sedang saya
rasakan, perasaan yang bercampur dengan rasa aneh yang sedang meliputi teras
jiwa saya. Bagaimana tidak bingung, wanita yang saya idam-idamkan itu rupanya
meminta satu permintaan yang menurut saya baru kali ini saya alami dan, dengan
polosnya saya menyanggupi kemauannya itu. Alasan utamanya ia sih yang saya
tangkap dikarenakan saya juga masih kuliah dan juga ia masih ingin melanjutkan
sekolahnya diluar daerah memang usiaku dengannya terpaut lebih tua saya satu
tahun, jadi mungkin wajar jika kemauan dia untuk kuliah di luar kota masih sangat
kuat. Oke kembali dengan curhatan saya, seperti di sambar gledek sudah tersambar masih tertimpa tangga pula inilah yang saya
rasakan ketika ia mengajak saya untuk menjalani hubungan dengan ia tapi dengan
jalan ta’aruf.
Jujur
bukan karena saya ini tipe laki-laki biadab (maaf) yang tidak bisa diajak
ta’arufan oleh perempuan tetapi saya hanya belum mengerti saja dengan apa
sebenarnya definisi dari ta’aruf itu sendiri, apakah ta’aruf pacaran yang hanya
bisa memandang sang sekali kali dari tirai yang ditutupinya, atau cara pacaran
tapi yang menggunakan busana muslimah agar terkesan agamis, atau ada pengertian
lain yang lebih masuk akal tentang ta’aruf itu sendiri ?
*
Bentar bakar rokok dulu.
*
Kembali
ke topik pembicaraan, ta’aruf, mungkin itu semacam gaya pacaran yang belum
begitu populer dikalangan remaja sekarang yang notabene adalah remaja-remaja
yang hedonis, tetapi se-pemahaman saya adalah suatu cara pacaran yang segala
sesuatu syariatnya mengikuti ajaran agama islam mungkin bisa dibilang cara
pacaran yang tidak menyimpang dari norma teologi keislaman. Tapi, sebenarnya di
islampun tidak mengenal pandangan tentang yang namanya “pacaran” itu sendiri bahkan seorang ulama yang saya dengar kodbahnya
di solat jum’atpun melarang keras tentang gaya hidup berpacaran itu sendiri,
pacaran lebih banyak mudoradnya ketimbang hal positifnya. Hemm, memang sedikit
sensitif memang jika sedang membahas tentang pacaran itu sendiri karena saya
pun dan semua orangpun pernah mengalami kehidupan berpacaran mungkin juga imam
yang saya dengar kodbah jum’atnya itu pun pernah mengalami romantika pacaran
disaat masa mudanya dulu.
Jadi
wajar saja jika manusia macam saya ini yang masih anak semester 3 jurusan
sosiologi “gelagepan” jika ada
seorang wanita yang ingin mengajak saya ta’arufan, apalagi dalam SKS saya tidak
diajarkan tentang tipe atau model pacaran yang seperti itu karena saya pun
sadar bahwa pribadi ini masih kurang sekali pengetahuan tentang keagamaan. Memang
kalau berbicara tentang perasaan saya memang sayang dengan dia saya ingin
memeluk dia di setiap waktu, saya ingin menggandeng dia didepan publik supaya
disekiling saya bisa tahu bahwa malaikat yang sedang disembrang sana adalah
milik saya tapi, apakah dengan cara kita menjalani hubungan dengan cara
ta’arufan harapan itu semua akan sirna ? mungkin saja iya dan mungkin saja
tidak absurt sekali bukan jawabannya.
Mungkin
waktu yang bisa menjawab hubungan kita nantinya akan seperti apa, kita hanya
bisa menjalaninya dengan se-serius mungkin karena menurut saya suatu hubungan
itu tidak ada ada yang main-main, karena ini menyangkut soal perasaan dan
perasaan juga menyangkut soal tubuh karena jika suatu perasaan dan hati
seseorang sudah rusak maka manusia layaknya seperti zombie yang berjalan tanpa suatu kontrol dari dalam tubuhnya. Meskipun
saya sudah berpikir keras tentang pengertian dan maksud kamu untuk menjalani
hubungan kita dengan cara ta’arufan tetap saja akhirnya saya tidak mengerti
tujuan dia apa sebenarnya, tapi tenang saja cinta kamu sudah terlanjur membuat
saya jatuh cinta dengan dirimu, kamu sudah terlanjur membuat otak saya yang
bebal ini menjadi lebih keruh dikarenakan candu asmara yang sudah kamu berikan
jadi konsekuensi dari itu semua saya akan mengikuti semua yang kamu minta (ini
bukan gombal,ini kenyataan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar