“Seekor bunglon kemarin memberikan
suatu pelajaran hidup yang sangat berharga bagi penulis, bunglon itu memiliki
ukuran yang sangat besar, seukuran manusia kira-kira. Bahwa manusia didunia ini
memang banyak jumlah, bahkan data sensus penduduk pun masih sering keliru untuk
menghitungnya tetapi, memang pada akhirnya manusia akan hidup dalam kesendirian. Harta, benda, keluarga, adik, kakak, gadget, pacar, TTM itu semua hanyalah
sementara. Lahir sendirian kemuka bumi dan akhirnya matipun akan sendirian
dalam perut bumi”
Bumi
masih saja terus berputar tanpa pernah merasa pusing dikarenakan berputar terus
menerus, udara pagipun masih mesra-mesranya memeluk kesejukan dengan embun
paginya. Suara ibu-ibu penggiat hidup sehat mulai sibuk mondar-mandir disetiap
jalan. Begitupun tak ketinggalan saya yang sekarang sekarang sedang sok sibuk
mengaduk-aduk kopi.
Entah
mengapa terbesit diotak saya tentang sebuah nasehat dari seorang guru besar
saya yang sekarang berada di suatu
daerah pelankolia, yaitu ayah saya. Bahwa sebuah kehidupan itu pada dasarnya
itu sendirian. Awalnya saya tidak mengerti apa sebenarnya dasar ayah saya
memberi nasehat seperti itu.
Padahal
banyak motivator-motivator yang memberikan nasehat bahwa hendaknya kita
haruslah banyak memiliki rekan, baik dalam hal rekan sepermainan sampai rekan
dalam menjalani hidup. Dikarenakan pengalaman hidup saya yang masih dangkal,
akhirnya sayapun hanya menyikapi nasehat ayah saya dengan anggukan kepala yang
penuh dengan kebingungan.
Memang
jika kita melihat kehidupan didunia ini memang banyaklah sebuah keganjilan dan
juga manipulasi kepentingan. Lebih dari 19 tahun saya hidup saya masih bingung
bagaimana mendeskripsikan kehidupan ini. Benar, lagi-lagi soal kepentingan yang
saya singgung, karena Cuma karena kepentinganlah terkadang seseorang bisa lupa
dengan sikap budi luhur yang katanya sudah diwarisi dari nenek moyang kita yang
katanya seorang pelaut itu.
Berkat
kepentingan lah seorang maling kundang bisa durhaka terhadap orang tuanya,,
karena kepentinganlah seorang dosen mau mengajar didalam kampus, karena
kepentingan jugalah terkadang manusia memuji orang lain, bahkan perilaku
kepentingan itulah yang kadang-kadang menjadikan manusia memiliki banyak
topeng. Sama halnya dengan teori berpakaian, orang pasti akan memilih baju yang
paling bagus untuk menghadirkan suatu citra yang baik juga katanya.
Tapi
terkadang manusia sering tergelincir dalam kemunafikan, sulit tuk membedakan
mana yang kebaikan murni mana kebaikan yang dilakukan atas dasar kepentingan.
Dalam kata lain manusia adalah seorang mahkluk hidup yang dikarunia akal dank
arena akal itulah terkadang manusia sering mengakal-akali bagaimana tuk bisa
mensukseskan kepentingan pribadinya.
Lantas
kenapa manusia pada akhirnya akan hidup sendiri? Karena memang tidak akan ada
manusia yang akan menolongnya dengan murni baik itu teman, maupun siapa sajalah
yang ada dibumi ini dan memang realitanya seperti itu. Tetapi jangan lihat
kesendiriannya, tapi lihatlah apa yang bisa kita kerjakan dalam kesendirian itu
tuk bisa memberikan kebaikan oleh orang lain. Tidak apik rasanya jika kita yang
tercipta dari tanah tapi berlaku seperti langit yang tinggi. Apakah dunia ini
kejam kawan? Saya rasa tidak selama kita masih mengingat orang tua terutama
ibu.
Karena
cuma orang tualah yang memiliki kebaikan tulus untuk hidup kita, cuma ibulah
yang memiliki budi luhur tentang suatu kesantunan, ibulah yang mengajarkan kita
tentang bagaimana memakai celana, bukan orang lain. Orang tua lah yang selalu
rella bangun malam cuma untuk mendoakan anak agar selalu santun dalam hal
memilih jalan hidup, bukannya pak ustad. Diluar dari garis keturunan, hanya
keluarga ayah, ibu, kakak, adik yang sanggup menemani hidup kita. Jadi diluar
itu semua minim sekali bisa kita dapati sebuah kebaikan yang benar-benar tulus
dan murni. Layaknya seperti rokok, harus dibakar dahulu biar berfungsi sama
halnya dengan kehidupan harus menerima kepahitan dulu supaya dapat belajar
mengecap rasa manis. Makanya manusia lain hanya membentur kita bermasalahan
hidup dan jika ingin menerima pembelajaran tentang hidup hanya ayah yang bisa,
dan cuma ibulah yang punya kebaikan murni, bukan yang lain apalagi pacar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar