Senin, 08 Agustus 2016

Kala Manusia Menggugat

Keadaan sekitar yang membuatku seperti ini, keadaan sekitar pula yang membuatku seakan merasa matang sebelum dewasa, terkadang memang manusia gampang untuk merasa pongah dengan apa yang sudah dia dapatkan sekitarnya tanpa menyadari bahwa dia tidaklah hanya sebutir debu jika di lihat dari tatasurya yang tak menentu ujungnya.
         Ya, memang tak akan ada habisnya jika kita membahas manusia, mamalia yang menggunakan kedua kakinya untuk berjalan, makhluk yang dianugerahnya otak yang hanya ia pakai sekitar 3% tetapi sudah bisa merusak bumi begitu hebatnya begitupun sebaliknya. Namun pada realitanya manusiapun di berikan anugerah yaitu “gampang lupa,” oleh sebab itu terkadang manusia sering lupa apa tujuan hidupnya dan hanya mengikuti arus kehidupan yang terkadang menyesatkan. Tanya saja coba, sebenarnya dari milyaran tahun bumi diciptakan dan akhirnya terciptannya manusia, lalu sebenarnya apa tujuannya? Aku pun tak bisa menjawabnya.
Apalagi ditambah dengan perputaran arus dilema kehidupan yang semakin mengerikan ini, yang dimana manusia dituntut untuk bisa menguasai salah satu dari sekian banyak keahlian dimuka bumi tetapi yang aku bingungkan kalau hasilnya seperti itu, kenapa dari kecil kita dituntut untuk belajar segala macam pelajaran?
Ini sebenarnya hanya keresahan diriku saja, masih banyak pertanyaan-pertanyaan didalam pikiranku yang sering menghantui, dan ada tujuan apa aku diberikan kodrat sebagai manusia pula. Rasa gundah akan sebenarnya apa yang pada nyatanya manusia memang harus terus belajar tetapi realitanya sekarang ilmu pengetahuan hanya dijadikan ajang untuk tujuan orang-orang tertentu saja. Tidak ada ilmu pengetahuan murni yang terlepas dari adanya kepentingan didalamnya, berbeda jika pada saat manusia masih sering mengalami pengalaman catarsis di kehidupannya. Sekarang, sungguh hebat manusia sudah dibanjiri oleh segala macam informasi yang bisa didapatkan secara instan, jadi bisa kita simpulkan bahwa manusia sekarang banyak yang tidak mementingkan proses suatu hal lalu mementingkan dirinya sendiri.
Manusia hanya bisa menilai tanpa bisa melihat ada keburukan apa yang ada dibelakang punggungnya, manusia yang tidak lebih tinggi dari pohon mangga ini, terkadang masih sering merasa angkuh dan lupa bahwa dia pun diciptakan dari tanah dan akan kembali pula ditanah, jadi apa yang bisa kita banggakan?
Jawabannya hanya 1, yaitu sifat intropeksi yang telah dianugerahkan oleh Sang Maha Pencipta yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya selain manusia dan itulah yang seharusnya bisa kita tempa secara terus menerus, karena jika manusia sudah lihay ber-intropeksi diri dia bisa lebih memasuki rasa manusiawi secara damai, jangan melihat ke orang lain tapi lihatlah ke diri kita sendiri. Maka dari itu cerminpun diciptakan, bukan hanya untuk melihat paras kita saja tetapi cermin sebenarnya memiliki filosofi tersendiri yang begitu dalam jika kita menghayatinya.   


                                                                                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar