Minggu, 29 November 2015

Numpang Nampang Pers Kampus

Jika Anda seorang jutawan yang sudah pasti memiliki  uang banyak, sah-sah saja jika Anda membuat rumah produksi kecap sendiri, dengan jargon “Kecap Nomor Wahid” dan  jangan lupa juga memajang diri Anda besar-besar dibotol kecap.  Sekarang, hanya tinggal menyebarluaskan saja kecap buatan pribadi itu ke khalayak banyak dengan menggunakan jargon di atas.
Selanjutnya tinggal pengamatan dan lidah masyarakatlah yang menilai mana yang benar-benar kecap nomor satu atau mana kecap yang hanya nomor satu dalam hal pencitraan saja. Hal ini pun bukan hanya ditemui di persaingan produk kecap saja, tetapi jika kita menganalisis ke dalam realitas yang ada, kejadian seperti ini juga sering terjadi di lingkungan masyarakat (baca: kampus)
Begitu banyak yang mencitrakan diri sebagai “aku adalah nomer satu di semua bidang” dan merasa otoriter, padahal buku-buku yang baru mereka baca hanyalah baru sampai majalah Bobo (analogi saja) sampai-sampai merasa pongah dengan orang lain dan lupa dengan ilmu padi.
Sungguh ironis bukan? Tetapi hal ini memanglah realita kalau saja kita peka menganalisis setiap gerak-gerik individu yang ada di lingkungan kita. Memang tak ada larangan jika seseorang menganggap dirinya lebih baik daripada teman sebayanya, tapi ingat hal itu pun harus dibarengi oleh proses dia dalam belajarnya juga. Karena hakekatnya, jika seseorang itu sudah memiliki wawasan yang luas pasti akan merasa kecil sebab sudah terlalu banyak hal yang mereka ketahui, bukannya malah angkuh dan sampai-sampai lupa bahwa dia berasal dari tanah lalu akan kembali lagi ke tanah jua.
Hal ini pun terkadang (telah) sering terlupakan oleh pers kampus, yang katanya lebih mengedepankan proses dalam mencari wawasan. Dalam dialog pojok kampung memang tidak ada larangan jika seseorang mencari suatu eksistensi di suatu bidang yang sedang ia geluti, tetapi eksistensi yang berlebihan pun tidak baik karena suatu hal yang berlebihan pasti tidak akan baik, ingat konsep makan garam.
Terkadang miris melihat jika ada pewarta kampus yang tidak konsisten dengan metode pencarian beritanya, yang mana hanya mengedepankan pandangan subjektif sang pewarta terhadap suatu hal, padahal pada pendidikannya sang pewarta kampus sering dididik oleh pandangan objektif dalam melihat suatu fenomena, perlu digarisbawahi bahwa wartawan kampus bukanlah hakim yang menentukan itu benar atau salah, wartawan kampus bukan hanya bisa mengkritik suatu kebijakan tapi juga sebaiknya dapat memberikan solusi, dan tambahan organisasi pers kampus bukanlah ladang untuk oknum pers dalam hal mencari eksistensi diri secara seradak-seruduk, tetapi sebagai sarana kajian yang mengedepankan aspek wawasan secara bertahap yang berfokuskan pada individu pers kampus itu sendiri.
Jika kita melihat kinerja pers kampus sendiri, memang porsinya didalam intensitas pencarian berita tidak dapat disamakan dengan pers umum yang biasanya sudah terjun ke media sungguhan, karena memang organisasi pers kampus dapat dijadikan suatu simulasi kerja jika seorang mahasiswa itu tertarik didalam dunia pencarian berita. Bagaimana nanti sang pewarta kampus itu bisa menjadi sukses jika dalam ranah simulasi saja sudah tidak fokus. Jangan jadikan embel-embel pers kampus sebagai tempat untuk menaikkan eksistensi, karena ingat, di dalam organisasi pers kampus itu bukan hanya ada satu atau dua orang saja tetapi disitu ada tim yang bekerja secara bersama-sama.

Jadi kembali lagi analogi kecap tadi, kita boleh saja mencari eksistensi diri sebanyaknya menggunakan suatu media, tetapi ingat jika eksistensi itu datang jika pribadi sang pers kampus itu sudah memiliki suatu prestasi dalam dirinya karena jika kita membicarakn suatu organisasi pers kampus, pasti tidak akan lepas dari segi kualitas diri wartawan kampus itu sendiri, selebihnya tinggal lingkungan masyarakatlah (baca:kampus) yang menilai kinerja pers kampus itu sendiri, simple bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar