Sabtu, 23 Agustus 2014

Madura bukan hanya sekedar carok



                         Jika kamu mendengar kota madura pasti yang langsung terbesit dipikiranmu adalah carok dan juga tukang sate, iya kan ? Memang begitu sedikit penilaian orang-orang luar tentang pulau yang berada di ujung timur pulau Jawa itu. Madura merupakan pulau yang dihubungkan oleh jembatan suramadu antara kota Surabaya dan ke pulau madura, dan kehidupan masyarakatnya pun jelas beda dengan penduduk dipulau jawa pada umumnya, mereka lebih mengandalkan sektor pertanian yaitu tembakau dan juga hasil budaya laut yaitu ikan dan garamnya. Tembakau madura memang sudah dikenal sejak lama merupakan  jenis tembakau yang terbilang sangat bagus, sudah banyak produsen rokok yang memakai tambakau hasil pulau ini untuk menciptakan rokok yang enak untuk di hisap. Hidup aku pun sekarang sedang aku habiskan dipulau ini, semenjak aku kuliah di Universitas Negeri satu-satunya dipulau ini sampai dengan sekarang aku sudah kuliah semester tiga kalau aku hitung-hitung kurang lebih aku sudah 1,5 tahun berada dipulau madura, jadi cukuplah untuk aku tuk bisa menilai bagaimana karakteristik penduduknya, kehidupan keagamaanya, dan juga pola pikir masyarakatnya.
                              Orang Madura dengan ciri khas corak baju merah putih belang-belang dan juga menyelipkan clurit di pinggangnya itu sebenarnya mempunyai filosofinya masing-masing. Merah putih belang-belang merupakan simbol masyarakatnya yang mempunyai jiwa yang selalu menjunjung tinggi harga diri setiap individunya, mereka punya selogan sendiri yaitu lebih baik putih ketimbang putih tulang yang artinya mereka lebih memilih bersimbah darah dulu untuk mempertahankan harga dirinya daripada harus mundur dan malu karena tidak bisa mempertahankan harga dirinya. Bila clurit pasti langsung berhubungannya dengan carok, sebenarnya kita juga harus memahami dulu apa itu yang dinamakan carok itu sendiri, sebenarnya carok kalau dalam arti umumnya adalah pertempuran antara dua orang penduduk madura yang sedang mempertahankan harga dirinya yang mungkin salah satu dari mereka ini mempunyai masalah harga diri yang sudah disakiti, dan juga biasanya penyebab paling utamanya adalah wanita. Tetapi carokpun di gunakan para penduduk Madura untuk melakukan perlawanan bagi para penjajah pada masa pergerakan dulu. Itupun sampai sekarang masih diwariskan kepada anak cucunya sampai dengan sekarang, tapi bukan kesadisan carok itu sendiri melainkan semangat bekerja para masyarakat maduranya. Meskipun penduduknya mayoritasnya adalah petani, tapi banyak juga penduduknya yang merantau,entah itu keluar pulau jawa atau kedaerah yang lebih jauh lagi dinegara ini. Aku pun jadi mendapatkan suatu pendapat bahwa yang menyebabkan penduduk madura mendapatkan cap yang cukup miris itu dikarenakan sifat mereka pada saat ditanah rantauannya, masyakarat madura yang sudah merantau jauh dari tanah kelahirannya memang mempunyai etos kerja yang sangat keras dia berani melakukan kerjaan kasar yang tidak bisa kerjakan oleh penduduk pulau jawa terutamanya, contoh saja adalah sebagai pengaman suatu perusaan tertentu.
                          Mereka bisa mempunyai watak keras itu hanya di tanah rantaunnya saja, itupun di dasari oleh sifat alamiah manusia, yaitu mereka ingin bertahan di tanah rantaunnya dan pulang kekampung halamannya dengan membawa hasil yang bisa membahagiakan orang-rang yang mereka cintai. Etos kerja merekalah yang harus kita contoh, etos kerja yang pantang menyerah dengan situasi apapun, cuaca yang sangat panas dipulau madura  mengajarkan pada mereka untuk bisa kuat dan gigih dalam bekerja dan kita akan menyadari hal itu apabila kita sudah menginjakkan kaki kita dipulau madura, apalagi apabila kita berkunjung ke perkampungan penduduknya, masyarakat madura yang kita kenal kasar-kasar, akan sirna pula dengan keremah-tamahan penduduknya. Kehangatan yang masih sangat kental dengan suasana kekeluargaan masih sangat  bisa kita rasakan, suasana desa yang sangat hangat itu oleh perlakuannya kepada setiap pendatang itu juga sangat mempengaruhi para pendatang untuk hijrah kepulau madura dan menetap disana. Makanya ada dua kelompok masyarakat yang dapat kita bedakan yaitu masyarakat asli madura dan juga masyarakat pendatang dan itu juga sangat berdampak pada budaya masyarakat madura itu sendiri. Masyarakat asli madura yang dikenal sebagai masyarakat yang agamis, sekarang mulai menemukan krisis jati dirinya, itu disebabkan karena adanya peleburan berbagai budaya yang masuk kepulau madura, anak muda dipulau madura mulai meninggalkan al qurannya dan beralih memenuhi tempat-tempat perbelanjaan hanya untuk memuakan hasrat duniawi mereka. Sangat miris memang melihat para pemuda madura sekarang ini, sifat etos kerja mereka yang sangat kuat itu secara perlahan-lahan mulai luntur dari dalam dirinya, mereka lebih suka hidup seperti apa yang mereka lihat di televisi, tempat-tempat pesantren mereka mulai mereka tinggalkan. Dan itu juga sekarang menjadikan penulis untuk bisa menyampaikan apa yang menjadi beban di benak penulis. Pulau madura sekarang sudah mulai berubah bukan jadi masyarakat madura yang sebagai hakekatnya, masyarakat yang selalu menjunjung tinggi nilai etos kerjanya dan juga agama. Cukup miris sekali memang  melihat penduduk yang kehilangan jati diri yang sesungguhnya.

                          Masyakat yang mulanya sangat agamis sekarang mulai berubah lebih hedonis, itu sangat terlihat sekali pada kehidupan pemudanya. Balap liar ada disetiap pinggir jalanan madura, miras dimana-mana dan juga banyak lagi yang membuat saya miris melihatnnya, jadi apa gunanya aku hijrah dari jakarta kalau pulau madura sendiri sekarang sudah mulai tidak senyaman yang aku dengar dari para sesepuh yang ada disini ? Mungkin harus ada segera tindakan untuk menyelamatkan budaya leluhur pulau madura yang terkenal dengan pemuda-pemudanya yang santun dan juga agamis, supaya pulau madura ini masih bisa memegang teguh budaya pribadinya dan juga harus ada filter atau penyaring untuk setiap budaya yang masuk ke madura, pemuka agamanya harus bisa menjadi penyaring budaya yang masuk kepulau madura. Itupun harus didasari oleh kesadaran masyarakatnya itu sendiri untuk mau menjaga hasil budaya leluhurnya.
                          Jadi madura bukan hanya sekedar carok, aku pun tidak setuju kalau carok itu dikatakan sebagai budaya, tetapi carok itu merupakan spirit atau semangat dan juga itos kerja yang dimiliki oleh masyarakat madura itu sendiri. Memang untuk mempertahankan setiap kebudayaan itu pasti sulit tapi paling tidak penduduk madura itu mau tuk mempertahankan budaya mereka yang sekarang mulai terkikis hari demi hari, supaya masih bisa terciptanya rasa kehangatan kekeluargaan antara para penduduknya yang saling gotong royong dalam semangat bekerja,bukan sebagai masyarakat yang terombang-ambing dan kehilangan jati dirinya dikarenakan dampak globalisasi. Jadikanlah  semangat carok itu sebagai kekuatan untuk mempertahankan budaya madura, semangat dari diri masing-masing masyarakat madura untuk menjaganya dengan sekuat tenaga.                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar