Jika kamu
mendengar kota madura pasti yang langsung terbesit dipikiranmu adalah carok
dan juga tukang sate, iya kan ? Memang begitu sedikit penilaian orang-orang
luar tentang pulau yang berada di ujung timur pulau Jawa itu. Madura merupakan
pulau yang dihubungkan oleh jembatan suramadu antara kota Surabaya dan ke pulau
madura, dan kehidupan masyarakatnya pun jelas beda dengan penduduk dipulau jawa
pada umumnya, mereka lebih mengandalkan sektor pertanian yaitu tembakau dan juga hasil budaya laut yaitu ikan dan garamnya. Tembakau
madura memang sudah dikenal sejak lama merupakan jenis tembakau yang terbilang sangat bagus,
sudah banyak produsen rokok yang memakai tambakau hasil pulau ini untuk menciptakan
rokok yang enak untuk di hisap. Hidup aku pun sekarang sedang aku habiskan dipulau
ini, semenjak aku kuliah di Universitas Negeri satu-satunya dipulau ini sampai dengan sekarang aku sudah kuliah semester
tiga kalau aku hitung-hitung kurang lebih aku sudah 1,5 tahun berada dipulau
madura, jadi cukuplah untuk aku tuk bisa menilai bagaimana karakteristik
penduduknya, kehidupan keagamaanya, dan juga pola pikir masyarakatnya.
Orang
Madura dengan ciri khas corak baju merah putih belang-belang dan juga
menyelipkan clurit di pinggangnya itu sebenarnya mempunyai filosofinya
masing-masing. Merah putih belang-belang merupakan simbol masyarakatnya yang
mempunyai jiwa yang selalu menjunjung tinggi harga diri setiap individunya,
mereka punya selogan sendiri yaitu lebih baik putih ketimbang putih tulang yang
artinya mereka lebih memilih bersimbah darah dulu untuk mempertahankan harga
dirinya daripada harus mundur dan malu karena tidak bisa mempertahankan harga
dirinya. Bila clurit pasti langsung berhubungannya dengan carok, sebenarnya
kita juga harus memahami dulu apa itu yang dinamakan carok itu sendiri, sebenarnya
carok kalau dalam arti umumnya adalah pertempuran antara dua orang penduduk
madura yang sedang mempertahankan harga dirinya yang mungkin salah satu dari
mereka ini mempunyai masalah harga diri yang sudah disakiti, dan juga biasanya
penyebab paling utamanya adalah wanita. Tetapi carokpun di gunakan para
penduduk Madura untuk melakukan perlawanan bagi para penjajah pada masa pergerakan
dulu. Itupun sampai sekarang masih diwariskan kepada anak cucunya sampai dengan
sekarang, tapi bukan kesadisan carok itu sendiri melainkan semangat bekerja
para masyarakat maduranya. Meskipun penduduknya mayoritasnya adalah petani,
tapi banyak juga penduduknya yang merantau,entah itu keluar pulau jawa atau
kedaerah yang lebih jauh lagi dinegara ini. Aku pun jadi mendapatkan suatu
pendapat bahwa yang menyebabkan penduduk madura mendapatkan cap yang cukup
miris itu dikarenakan sifat mereka pada saat ditanah rantauannya, masyakarat
madura yang sudah merantau jauh dari tanah kelahirannya memang mempunyai etos
kerja yang sangat keras dia berani melakukan kerjaan kasar yang tidak bisa
kerjakan oleh penduduk pulau jawa terutamanya, contoh saja adalah sebagai pengaman
suatu perusaan tertentu.
Mereka bisa mempunyai
watak keras itu hanya di tanah rantaunnya saja, itupun di dasari oleh sifat
alamiah manusia, yaitu mereka ingin bertahan di tanah rantaunnya dan pulang
kekampung halamannya dengan membawa hasil yang bisa membahagiakan orang-rang
yang mereka cintai. Etos kerja merekalah yang harus kita contoh, etos kerja
yang pantang menyerah dengan situasi apapun, cuaca yang sangat panas dipulau
madura mengajarkan pada mereka untuk
bisa kuat dan gigih dalam bekerja dan kita akan menyadari hal itu apabila kita
sudah menginjakkan kaki kita dipulau madura, apalagi apabila kita berkunjung ke
perkampungan penduduknya, masyarakat madura yang kita kenal kasar-kasar, akan
sirna pula dengan keremah-tamahan penduduknya. Kehangatan yang masih sangat
kental dengan suasana kekeluargaan masih sangat
bisa kita rasakan, suasana desa yang sangat hangat itu oleh perlakuannya
kepada setiap pendatang itu juga sangat mempengaruhi para pendatang untuk
hijrah kepulau madura dan menetap disana. Makanya ada dua kelompok masyarakat
yang dapat kita bedakan yaitu masyarakat asli madura dan juga masyarakat
pendatang dan itu juga sangat berdampak pada budaya masyarakat madura itu
sendiri. Masyarakat asli madura yang dikenal sebagai masyarakat yang agamis,
sekarang mulai menemukan krisis jati dirinya, itu disebabkan karena adanya
peleburan berbagai budaya yang masuk kepulau madura, anak muda dipulau madura
mulai meninggalkan al qurannya dan beralih memenuhi tempat-tempat perbelanjaan
hanya untuk memuakan hasrat duniawi mereka. Sangat miris memang melihat para
pemuda madura sekarang ini, sifat etos kerja mereka yang sangat kuat itu secara
perlahan-lahan mulai luntur dari dalam dirinya, mereka lebih suka hidup seperti
apa yang mereka lihat di televisi, tempat-tempat pesantren mereka mulai mereka
tinggalkan. Dan itu juga sekarang menjadikan penulis untuk bisa menyampaikan
apa yang menjadi beban di benak penulis. Pulau madura sekarang sudah mulai
berubah bukan jadi masyarakat madura yang sebagai hakekatnya, masyarakat yang
selalu menjunjung tinggi nilai etos kerjanya dan juga agama. Cukup miris sekali
memang melihat penduduk yang kehilangan
jati diri yang sesungguhnya.
Masyakat yang mulanya
sangat agamis sekarang mulai berubah lebih hedonis, itu sangat terlihat sekali
pada kehidupan pemudanya. Balap liar ada disetiap pinggir jalanan madura, miras
dimana-mana dan juga banyak lagi yang membuat saya miris melihatnnya, jadi apa
gunanya aku hijrah dari jakarta kalau pulau madura sendiri sekarang sudah mulai
tidak senyaman yang aku dengar dari para sesepuh yang ada disini ? Mungkin
harus ada segera tindakan untuk menyelamatkan budaya leluhur pulau madura yang
terkenal dengan pemuda-pemudanya yang santun dan juga agamis, supaya pulau
madura ini masih bisa memegang teguh budaya pribadinya dan juga harus ada
filter atau penyaring untuk setiap budaya yang masuk ke madura, pemuka agamanya
harus bisa menjadi penyaring budaya yang masuk kepulau madura. Itupun harus
didasari oleh kesadaran masyarakatnya itu sendiri untuk mau menjaga hasil
budaya leluhurnya.
Jadi madura bukan
hanya sekedar carok, aku pun tidak setuju kalau carok itu dikatakan sebagai
budaya, tetapi carok itu merupakan spirit atau semangat dan juga itos kerja
yang dimiliki oleh masyarakat madura itu sendiri. Memang untuk mempertahankan
setiap kebudayaan itu pasti sulit tapi paling tidak penduduk madura itu mau tuk
mempertahankan budaya mereka yang sekarang mulai terkikis hari demi hari,
supaya masih bisa terciptanya rasa kehangatan kekeluargaan antara para
penduduknya yang saling gotong royong dalam semangat bekerja,bukan sebagai
masyarakat yang terombang-ambing dan kehilangan jati dirinya dikarenakan dampak
globalisasi. Jadikanlah semangat carok
itu sebagai kekuatan untuk mempertahankan budaya madura, semangat dari diri
masing-masing masyarakat madura untuk menjaganya dengan sekuat tenaga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar