Mahasiswa
yang pada dasarnya adalah insan akademik yang dituntut memiliki wawasan yang
luas tentang segala aspek. Namun, dalam penerapannya masih jauh dari hal
tersebut. Mahasiswa adalah kaum intelektual yang berwawasan luas, dengan hal
demikian maka dalam hal aktifisitas membaca untuk menambah wawasan di rasa
perlu untuk ditingkatkan. Proses membaca adalah proses yang sangat penting
dalam hal meningkatkan wawasan yang belum tentu didapatkan di ruang kelas. Sebelumnya
kita harus menyadari bahwa mahasiswa saat ini cenderung lebih memfukoskan diri
terhadap kehidupan pragmatis cenderung instan dalam meningkatkan kualitas diri.
Untuk menanggapi fenomena tersebut, tidak terlepas dari peran mahasiswa untuk memahami
salah satu dari tri fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan. Dalam hal ini apa yang harus di rubah jika dalam
pemikiran dan tingkah lakunya untuk menyikapi perubahan hanya tetap dan tidak
bertambah dalam hal suplai pengetahuan.
Terasa canggung, jika seorang
mahasiswa tidak memiliki konsep belajar dan kerangka pemikirannya sendiri
karena teracuni oleh doktrinasi sana-sini tanpa tahu mana hal yang perlu dan
patut untuk dijadikan landasan dalam menyikapi segala hal. Dampak dari itupun
akan tercermin dari perilakunya yang seolah-olah selalu jadi pengekor terhadap
sesuatu yang salah. Sesuatu yang salah itu bisa menjadi benar ketika terlalu mainstream. Hal itu dianggap biasa dan
diyakini sebagai konsep kebenaran. Dalam hal untuk mengantisipasi adanya
keracunan dalam mengkonsumsi suatu kebenaran yang bermacam-macam, perlunya kebutuhan
membaca sebenarnya juga bisa menstimulus otak kita agar peka untuk memahami
gelaja-gelaja yang sedang terjadi disekitar kita. Membaca, juga melatih kita untuk
bisa lebih mengerti dan memahami mengenai banyak hal dan yang terpenting tidak
membiarkan kita untuk menyandarkan pengetahuan kepada dosen, senior, pembimbing
atau semacamnya.
Sebenarnya sudah banyak hal yang
terkait dengan peningkatan minat baca dilingkungan kampus kita seperti halnya
ruang baca, perpustakaan, hingga tempat untuk berdiskusi. Tetapi kurangnya kesadaran mengenai pentingnya budaya membaca dari
kaum akademik kampus ini, membuat fasilitas untuk mengembangkan pengetahuan
seakan tidak dimanfaatkan. Mahasiswa, dosen, dan pelaku akademik cenderung
tidak memanfaatkan fasilitas tersebut untuk beraktifitas layaknya kaum
intelektual. Membaca hanya mengganggu aktifitas istirahat saja, apakah memang
seperti itu budaya yang secara sengaja tercipta dengan sendirinya karena
kebiasaan yang cenderung hanya itu-itu saja. Hal ini bisa di rasakan dampaknya,
banyak dari mahasiswa mengeluh jika di beri tugas paper, artikel, dan tugas tulis menulis lainnya bukan karena mereka
malas. Namun, lihat apakah mereka paham mengenai apa tulisan yang akan di tulis
sedangkan membaca saja hampir nihil. Untuk hal
demikian, maka membaca jadi hal yang penting dalam mengembangkan wawasan
dan kemampuan kita dalam hal menulis. Mengapa demikian? Coba kita renungkan
sejenak, apakah dengan tidak membaca kita dapat menulis tentang banyak hal. Apa
yang mau di tulis jika perbendaharaan kata saja kita minim. jika kita sudah
berfikir demikian, dengan membaca otomatis terasah untuk aktif menulis dan
lebih menghargai sebuah kemurnian pengetahuan.
Apalagi dalam memperingati hari
pahlawan yang di tanggal 10 Nopember kemarin kita rayakan. Pahlawan yang bersemangat
rela mengorbankan segenap jiwa dan raga untuk memerdekan bangsa ini. Apakah
kita akan mengisi kegiatan-kegiatan untuk memperingati hari dimana prosesi
perjuangan kemerdekaan ini dengan cara bersantai ria, bersenang-senang. Dengan
begitu kita sudah aman karena telah merdeka dan berhak melakukan apa saja.
Bukankah hal tersebut lebih menarik di banding dengan aktifitas membaca buku.
Bukan karena sebuah kemerdekaan kita di tuntut untuk tetap berkarya dan bukan
karena pahlawan pula kita membaca. Membaca hanya untuk sebuah kesadaran bahwa
saat ini bangsa Indonesia membutuhkan sosok pemuda harapan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar