Sabtu, 20 Desember 2014

Mahasiswa dan Perspektif Konsumtif


       Gemerlap kehidupan kampus yang jauh dari orang tua terkadang membuat beberapa mahasiswa silau oleh kehidupan yang serba “wah”. Kehidupan yang sering lupa akan mana kebutuhan primer dan juga kebutuhan sekundernya. Malah mahasiswa terkadang hanya mementing kebutuhan sesuatu untuk mengejar sebuah nilai prestige dari nilai barang tersebut untuk dijadikan sebagai modal sosial saja.
http://th03.deviantart.net/fs70/PRE/i/2010/134/7/6/L__hedonisme_by_crazygirl_lP.jpg
Ilustrasi: Google
           Dengan siklus kehidupan mahasiswa yang seperti itu, akan rentan menimbulkan dan melahirkan sebuah persoalan kecemburuan di pergaulan hidup mahasiswa. Tubuh-tubuh mereka, dari ujung kaki sampai ujung rambut hanya menjadi sebuah objek iklan berjalan yang dijadikan oleh oknum-oknum kapitalis industri sebagai pangsa pasar yang sangat menguntungkan. Mata mereka hanya memandang semuanya dari bagaimana mereka mementingkan kebutuhan nafsunya saja, dan juga  untuk mendapatkan suatu barang yang terkadang masih bisa dikesampingkan dulu. Jadi polemik yang ada di lingkungan mahasiswa bukanlah hanya sekedar persoalan nilai akademik, politik kampus yang menggurita, isu-isu kampus yang tidak ada ujungnya, melainkan juga soal iklim gaya hidup mereka yang sudah mulai melenceng dari logika komsumsi yaitu ‘Seseorang membeli dan mengkonsumsi kerena membutuhkan dengan pertimbangan rasionalitas untung rugi, manfaat an harga’(Adam Smith). Mungkin itu dulu pak Adam Smith, tetapi realitasnya sekarang sudah mulai melenceng dan melintir.
            Mahasiswa jaman sekarang lebih mementingkan hidup hedonis tanpa berkaca pada kemampuan orang tuanya, mahasiswa sekarang lebih memilih menjual status mahasiswanya hanya untuk ajang membodohkan orang lain da n mendapatkan segala sesuatunya dengan cara instan. Apakah ini sangat ironis? Tentu saja jawabannya sangat klise.
            Apakah mahasiswa sekarang sudah mulai lupa akan tugas Tri Fungsi mahasiswa yang sedari jaman Orientasi Mahasiswa Baru sudah dilontarkan oleh setiap seniornya, atau jangan-jangan malah masa ospek cuma dijadikan ajang menghambur-hamburkan uang Negara untuk mengejar kebutuhan gengsi kalangan tertentu saja?
            Lantas sukseslah cita-cita kaum kapitalis yang mendoktrin pelan-pelan melalui iklan, surat media, media televisi sebagai tubuh adalah pasar dan hampir semua dari hidup kita ini sudah di hinggapi oleh kepentingan pasar global, apakah kita mau hanya menjadi korban modernitas tanpa memperkuat moral kita?
            Ini hanya sekedar informasi saja, pada masa kehidupan kapitalis, saat produksi menjadi massal, maka logika konsumsi bukanlah hanya lagi sekedar kebutuhan saja melainkan berubah menjadi hasrat. Maka yang dikonsumsi sekarang ini sebenarnya adalah sebuah tanda bukanlah sebuah barangnya (Jean P. Baudrillard). Budaya poluler dan industri budaya yang seperti ini dapat melahirkan “keputuhan palsu” ditengah” masyarakat begitu juga dengan mahasiswa.
            Kembali membahas mahasiswa, dengan polemik penyakit budaya yang seperti ini mahasiswa diharapkan bisa memilah dan memilih mana kebutuhan mereka dan  mana yang masih bisa dikesampingkan terlebih dahulu. Jika boleh mengambil kutipan kata Pram ‘Seorang terpelajar harus bijak sejak didalam dalam pikiran, apalagi terhadap perilakunya’ dan itu bisa dijadikan sebuah ideologi bagi setiap insan mahasiswa untuk menyikapi budaya konsumtif di dalam lingkungannya. Apalagi nyatanya mahasiswa mempunyai kebutuhan yang tidak sedikit, tetapi itu bisa di siasati dengan perilaku yang bijak dalam memilih semua kebutuhan pribadi.
Dengan demikian, mulailah dengan berpikir jernih dalam memilih setiap barang yang akan dibeli apakah akan bermanfaat banyak ataukah hanya menimbulkan kesia-siaan belaka. Karena mahasiswa notabenenya dianggap harus unggul dalam menentukan setiap tindakannya dan juga gaya hidupnya jangan sampai terbawa dengan perilaku hidup yang hedonis.
            Sikap bijak dari setiap insan unggul mahasiswa untuk bisa  harmonis dalam berpikir dan juga menyikapi gaya hidup  masing-masing, isi otak kita dengan ilmu-ilmu yang barokah dan tutupi raga kita oleh barang-barang yang bermanfaat. Jika tidak, apakah kita mau hanya menjadi sampah dari suatu budaya yang merugikan?  
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar