Karangan
: Achdiat M. Miharja
Manusia adalah makhluk yang tidak akan lepas
dari pelukan tuhan meskipun akalnya sudah bisa mengetahui segala hal yang ada
didunia, karena pada hakekatnya manusia merupakan makhluk religius (Aditya
Rio Rahmansyah).
Sebuah
novel sastra klasik yang diciptakan dari tangan Achdiat M. Miharja yang
menceritakan seorang tokoh yang bernama hasan yang awalnya adalah seorang yang
sangat religius, tetapi dikarena hasutan dan juga ajaran dari teman-teman
diskusinya yang bernama Rusli dan Anwar.
Plot
cerita yang beralun mundur itu, sangat memberikan nuansa lain bagi para
pembacanya.
Bermula pada halaman
awal yang menceritakan tokoh hasan yang membuat sebuah tulisan tentang
perjalanan hidupnya dari kehidupannya dimasa kecil yang sangat taat beragama,
sampai akhirnya disuatu pertemuannya yang tak sengaja di suatu instansi
pemerintahan, dia bertemu dengan teman lama yang bernama Rusli, dari situlah
itu rutin bertemu dan diskusi dengan Rusli yang notabene adalah seorang sosok
yang sangat mengedepankan pola pikir yang rasional dan kritis terhadap suatu
hal yang menurut ia masih sangat klise terutama tentang agama. Pada awalnya
Hasan pun
menolak semua retorika dan penjelasan Rusli tentang pandangan terhadap Tuhan,
tetapi pada akhirnya iapun termakan juga oleh pemikiran yang dianut oleh
sahabat lamanya tersebut. Pergulatan batinpun akhirnya sangat dirasakan Hasan
terutama disaat ia dikenalkan lagi oleh teman Rusli yang lebih memiliki
pemikirannya jauh lebih radikal ketimbang Rusli.
Latar suasana dalam buku ini
disajikan dengan nuansa abad 20, dimana
pada saat itu Indonesia masih dijajah oleh bangsa Belanda dan para kalangan kaum mudanya disusupi oleh
suatu pemikiran atau golongan yang sebut “frijdenker” atau faham atheis. Dengan
gaya penulisan sastra klasik yang menjadikan buku ini semakin unik, penuturan
yang lugas dan juga sedikit jenaka menjadikan butuh ini tidak monoton dan juga
membuat pembaca menjadi semakin penasaran untuk menamatkan membaca buku ini
sampai tuntas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar