22 Oktober 2014
Tulisan darurat dikantin hukum
Aku
yang berdiri di tengah-tengah pergantian malam, terdiam lesu didalam renungan
para dewi kepedihan. Terdengar semua rintihan manusia yang sedang malas untuk
bergembira dikarenakan hatinya sedang pilu di terpa sakit jiwa akibat perlakuan
seorang wanita.
Aku
yang sedang berkumpul dengan energi macam itu lambat laun pun tertular juga
oleh perasaan sakit jiwa tersebut, ditambah lagi baru kemarin seorang rahwana
menghampiriku dan memberikanku semua bunga kamboja, begitu wangi aromanya tapi
cepat sekali berubah aromanya menjadi seperti bau busuk kali Ciliwung.
Aku
pun mencoba biasa saja dan berpura-pura menjadi seperti manusia normal yang ada
di tivi-tivi hape cina waktu dulu, tapi tetap saja perasaan
ini begitu sakit ketika mengingat sang dewi rahwana yang mudah sekali memainkan
hati seorang kasta rendah seperti diriku, dijadikannya ku seperti sandal yang
bisa dia pakai kemana saja dan dia tukar dengan yang lebih bagus seperti dikala
sedang solat jumat. Oh dewi rahwana yang
sekarang entah sedang berada diruang peraduan kamarnya, senyummu yang hanya
bisa ku lihat dari layar hape bb ku
kenapa kau jahat sekali pada seorang anak pemecah batu seperti ku ini, hatiku
tak sekuat gunung Renjani yang tak akan doyong di terpa angin taifun hatiku ini
laksana batu bata yang begitu rapuh kala di injak seseorang.
Orang
disekelilingku mulai memperhatikanku yang sedari tadi hanya menghela napas
berkali-kali, dan mereka semakin yakin akan bertambah satu lagi orang sakit
jiwa yang akan berkumpul disini dikarenakan termakan omongan manis seorang
wanita, mereka pun mulai tersenyum penuh kemenangan dan mulai songong tuk meraba isi kejiwaanku. Setan
apakah mereka yang mulai menularkan aura negatifnya terhadapku, manusia kah
mereka yang hanya mengumbar kata-kata manisnya layaknya seperti zat akspartam
yang nantinya cuma meninggal rasa sakit di tenggorokan ?
Salah
memang aku keluar malam-malam yang kata orang dulu bilang banyak setan yang
sedang berkeliaran dan mondar-mandir di pintu masuk antara jiwa dan raga.
Tetapi menurutku malam layak seperti tempat kursus yang mengajarkanku tentang
ilmu yang tidak di ajarkan oleh Pak Jamal guruku saat dibangku SD dulu. Tetap
malam juga terkadang sering membuat sedih dan mengerti jika raga ini sangat
takut akan pekatnya ruang gelap malam.
Haaahhh,
ku kembali lagi menghela napas berharap ada setitik cahaya yang akan
menghampiriku dan mengajakku pergi dari lingkungan kotor ini. Tetapi ku tak
bisa, aku berlahan mulai dihinggapi juga oleh penyakit jiwa ini, penyakit
dimana seseorang yang tadinya gagah seperti dewapun jika disakiti oleh wanita
akan berubah jiwanya menjadi seperti besi yang memuai jika di bakar oleh api
penyesalan.
Lanjut lagi dong
BalasHapus