Ketika
semua sedang larut dalam kesibukannya, akupun sedang sibuk bergumul dengan
khayalanku sendiri, tentang awan-awan yang sedang gelap diawal tahun ini, udara
yang entah sampai kapan ada di dunia ini, burung-burung pipit yang takut keluar
dari sarangnya karena udara sudah mulai keruh entah oleh asap siapa, dan ini
itu yang lain. Temaram malam tak lagi beda dengan gemerlap di siang hari. Saat
musim mulai berganti namun terlambat datang. Ketika itulah aku mulai merenungi
kisah-kisah dalam hidup yang kata mereka singkat bila diingat, terlalu dalam
bila dikenang
Kehidupanku
ini memang seakan-akan sudah mulai disetir oleh suatu kekuatan besar yang tak
pernah terlihat bentuknya, kebenaran-kebenaran baru yang sudah mulai diciptakan
oleh sekelompok manusia yang mengatasnamakan dirinya Tuhan Baru! Dapat
dikatakan istilah ini sebagai orang yang paling benar dalam segala hal dan
segala bentuk pembenarannya, loh berarti
kebenaran sekarang sudah semakin banyak dong, saking banyaknya aku terkadang
bingung menentukan mana kebenaran ilahi yang tercipta dari Maha Kuasa dan mana
kebenaran yang dibuat diatas
kepentingan kelompok tertentu, lihat saja di TV sekarang ini, cantik itu
harus putih, tinggi, memiliki tubuh yang bagaikan seorang Dewi Sri, dewi
kesuburan dari tanah Jawa. Rambut yang indah itu harus lurus, lalu bagaimana
saudara-saudara kita dari afrika dan papua apakah dia tidak bisa masuk dalam
katerogi cantik?
Aku
seolah sudah dipilihkan untuk menganggap bahwa standar-standar kehidupan yang
layak harus seperti apa yang ditanyangkan di TV. Aku dan kehidupanku seolah
segalanya yang harus menganggap hal itu benar. Untuk urusan yang sulit dalam
pemahaman dasar pun mau tak mau akupun dituntut oleh suatu candu media.
Layaknya seorang yang sudah mengkonsumsi narkoba selama ratusan abad walaupun
dalam kenyataannya aku hanya makhluk yang dipaksa tuk mempercayai kebenaran
yang sudah disepakati oleh banyak orang.
![]() |
Dalam
soal pekerjaan hal itupun sama saja, kekuatan yang besar tersebut selalu
mengkotak-kotakkan keadaan dalam satu kotak yang tak longgar, wanita hanya
dijadikan pemanis dalam kantor semata, dijadikan bidak bidak catur yang siap
ditumbalkan tuk menggerakkan roda ekonomi dalam industri film, iklan, dan yang
lain. Wanita adalah pelengkap ranjang untuk bisa digrayangi dan dijadikan
pelengkap setiap lekuk tubuh yang tak tertutup, hanya dijadikan penyeimbang
agar disuatu kantor tidak hanya lelaki dengan kejenuhan melihat tumpukan kertas
tebal. Singkat kata wanita hanya dipandang sebelah mata dan terkesan lemah hal
apapun kecuali dalam hal menjaga anak mungkin, padahal itu adalah pandangan
orang-orang jaman socrates yang
memandang wanita dari sudut pandang kaku dan baku pada jamannya.
***
Lama
aku terdiam dalam pikiran membuatku semakin geram untuk mengamati kehidupan
didunia ini. aaarrgh.. sampai lupa
aku memperkenalkan diri, aku adalah Endang Hargiani Syahwat. Ya, setiapku memperkenalkan diri dengan orang lain ataupun
didepan kelas pasti ada saja yang mempertawai aku, ‘hey kenapa nama belakangmu ada Syahwat-syahwatnya?’ akupun tak tau
yang memberikan namaku itu kan orang tuaku,”celetuk dalam hati sendiri”.
Menurut
orang yang ada disekelilingku, aku adalah wanita yang sering membingungkan,
tidak seperti wanita pada umumnya, sama sekali tidak memperhatikan penampilan.
Padahal, sekarang aku sudah mulai menginjak umur 20 tahun. Aku jarang mandi,
sering melamun, menghabiskan waktu berlama-lama dikamar mandi, kutu buku dan
hobiku adalah mengoleksi buku—buku sejarah dan juga filsafat. Sekarang aku
sedang mengambil jurusan sosiologi disebuah Universitas negeri yang tempat
sangat jauh, sangat jauh dari hiruk pikuk iklim hedonisme kota.
Orang-orang
di sekelilingku sering menganggapku bukan gadis yang normal. Dengan kata lain
aku adalah gadis aneh yang hanya merusak citra gadis pada umumnya. “Iya, umum
menurut kebanyakan mata lapar.” Batinku. Aku tak begitu peduli dengan apa yang
dikatakan oleh orang di sekitarku. Hari-hari yang aku lewatipun sama saja
seperti wanita lain yang sedang berada disebuah Kampus, pagi sampai sore
kuliah, mengerjakan tugas yang tidak henti-hentinya diberikan oleh dosen,
membuat makan malam seadanya dan itu aku lakukan terus menerus sampai terkadang
akupun jenuh dengan hari yang begitu-gitu saja. Disatu sisi aku harus selalu
menjaga kesehatan badanku dan disatu sisi juga aku selalu menyakiti akal
sehatku sendiri karena sering memikirkan hal yang menerawang jauh entah kemana.
***
HIDUP,
apa yang kamu pikirkan tentang hidup? Sebenarnya kenapa kita bisa hidup di dunia
ini? Kenapa harus manusia saja yang mempunyai akal dan pikiran? Kenapa hewan
lain tidak diberi tugas yang sama dengan manusia untuk menjaga dan memelihara
bumi? Padahal pada kenyataannya, manusia terkadang melebihi sifat binatang
dalam merusak dan mengotori bumi. Pembakaran hutan secara liar untuk pembukaan
lahan baru, banyak pohon-pohon yang seharus dijaga oleh manusia malah ditebang
habis dan menyisakan lahan gundul dimana-mana. Jika setelah ditebang kemudian
ditanami pohon baru itu tidak masalah, tapi jika tidak ditanam pohon kembali, lantas
manusia dapat oksigen dari mana? Apakah mereka sudah mulai melupakan pelajaran
IPA jaman SD bahwa pohon dan tumbuhan lain adalah penyumbang oksigen yang
sangat diperlukan untuk keberlangsungan hidup manusia.
Hehehe,
manusia-manusia mungkin memang tidak semuanya seperti itu, contohnya saja yang
pernah aku baca disebuah surat kabar tentang komunitas yang mengatasnamakan
diri sebagai kaum romantisme yang menselaraska hidupnya dengan alam dan
memalingkan wajahnya dengan segala macam modernitas yang ada dibumi ini. “Mereka
hidup dengan alam, berdiskusi dengan tiap tetes embun dipagi hari, menikmati
hidup dibawah pohon rindang tanpa harus sibuk memikirkan polemik politik palsu
yang dibuat-buat oleh segelintir orang. Mungkin hidup seperti itu lebih
menarik.” Menurutku.
Tapi
tidakkah para wanita di dunia ini sudah bergerak seolah mengikuti alur cerita
yang sebenarnya sudah terbingkai dengan baik oleh kaum adam yang semakin
memperparah keadaan. Bicara mengenai seorang pemimpin, bila wanita dianggap
sebagai kutu dalam sebuah instansi maka jangan anggap suatu instansi atau
lembaga akan bisa berjalan dengan normal. Masih banyak kelebihan kaum wanita jika
dibandingkan dengan kaum adam. Hanya saja apakah berani para wanita mendobrak
sebuah semangat untuk sebuah kesetaraan hak untuk memperoleh perlakuan yang
layak. Layaknya seorang manusia yang benar-benar bisa memanusiakan manusia itu
sendiri. Bukankah sangat berbeda antara hewan, tumbuhan dan manusia. Jika
menurutku semua sama, apakah yang akan terlintas dalam benak orang kebanyakan.
“Tidak, Bukan begitu... Apakah kamu sudah gila menyamakan semua hal itu.” Dalam
benakku beranggapan bahwa semua orang akan berkata demikian. Namun, tidakkah
disadari bahwa sebenarnya manusia, hewan dan tumbuhan sama-sama hidup. Mereka
berhak mendapatkan kehidupan meskipun sering hal manusia menentang dengan
anggapan alam sudah disediakan oleh Tuhan untuk manusia. Lantas, apakah dengan
kesediaan alam untuk dibabat habis oleh keserakahan manusia alam mampu
bertahan. Atau sebaliknya manusia mampu bertahan tanpa adanya alam.
Dengan
kata lain aku sudah mulai muak dengan kehidupan yang tidak bebas dalam hal
apapun. Aku memang wanita tetapi aku tidak mau dikotak-kotakkan oleh perbedaan
jenis kelamin. Soal wawasanpun aku tidak kalah dengan kaum-kaum lelaki, aku
bisa menganalisis dan memahami sampai sejauh apa masalah dan problematika yang
di hadapi kaum modern. kaum wanita bukan hanya pasangan hidup bagi lelaki.
Meskipun aku sadar bahwa kehidupan ini haruslah wajar lelaki berpasangan dengan
wanita dan bukan sebaliknya wanita berpasangan dengan wanita ataupun lelaki
dengan lelaki, kalau seperti itu apa kita mau mengulangi azab kaum Nabi Lud
yang kota dihancurkan oleh Tuhan dikarenakan mempunyai kaum sodom dan penyimpangan
sex macam itu.
Akupun
sampai sekarang masih mencari sosok seorang lelaki yang bisa menyempurnakan
hidupku kelak, aku tidak memiliki kadar ketampanan lelaki harus seperti ini dan
itu, sederhana dan unik dalam olah pikirnya pun itu sudah bisa membuatku
tergila-gila nantinya. Dan sampai akhirnya disebuah acara musikalisasi puisi
dikampusku aku bertemu dengan seorang lelaki yang membuatku terpesona oleh sosoknya,
perkenalan pun aku jalani, terlihat bodoh aku disaat itu, aku gugup menanggapi
setiap obrolannya, hanya bisa tersenyum dan terdiam batinku pun berteriak
apakah ini yang dinamakan cinta? Mengapa cinta itu begitu mudah keluar dari
alam bawah sadar kita? Apakah setiap manusia memang diciptakan untuk gampang
mencintai setiap pasangannnya?
Singkat
cerita akupun akhirnya menjalani hubungan dengan pria itu sebut saja dia
bernama Kenanga Hertanto. Dia merupakan seorang yang berkecimpung di dunia pers
kampus, kepribadian yang menitikberatkan kepada kesederhanaan diri dan juga
tidak sombonng dengan orang lain itulah yang membuatku nyaman dengannya, soal
wawasannya pun sangat banyak itu tercermin dari bagaimana cara pandang dia
dalam setiap persepsi yang aku berikan jika sedang berdiskusi dengannya, dia
tidak mau menggurui siapapun toh orang yang bijaksana menurutnya adalah orang
yang tak banyak bicara dan menggurui tetapi lebih kepada saling berdiskusi
mendalam untuk bisa menambah wawasan.
Aku menjalani hubungan dengan dia cukup lama sampai akupun menginjak
tahun ketiga dikampus ini dan sekarang aku sudah semester 6 dan dia sudah
sampai pada semester akhir cintaku pun dengan dia begitu besar dan dia pun sama
halnya denganku, cinta yang indah adalah jika cinta itu bertemu dengan cinta
yang tulus bukan?
Sampai
pada suatu ketika kejadian yang membuatku patah semangat, Kenanga mengalami
sebuah kecelakaan parah yang mengharuskannya dia harus diamputasi kedua kakinya
dan juga mengalami gegar otak yang parah. Setiap hari ada yang berbeda dengan
seharianku sekarang yang harus selalu menemaninya dan memperhatikan segala
kebutuhannya, akupun sering terharu dengan semangat hidupnya yang masih selalu
memberikanku sebuah puisi-puisi kecil meskipun kondisi dia sekarang hanya bisa
berbaring di tempat tidur untuk berbicarapun dia masih sangat kesusahan. Yah
Tuhan, apa yang sedang kau inginkan dari aku ini? Aku hanya mencintai dengan
sepenuh hatiku saja apa harus seperti inikah cinta tulus itu harus diuji Yah
Tuhan. Hari berganti hari, awan-awanpun sekarang sudah mulai menampakkan siluet
birunya, hujan deraspun sekarang sudah mulai berganti dengan suasana cerah yang
menggugah, tetapi kondisi dia terus memburuk dan sekarang dia koma dan itu
membuatku semakin bersedih dan hampir patah semangat. Didalam kesedihan itu
sangat sering aku menyelipkan doaku kepada tuhan agar segeralah ia di berikan
sebuah keajaiban untuk bisa terbangun dari komanya.
Aku
jadi semakin banyak berdiam diri dalam setiap lamunan saat sedang menjaganya
disamping tempat tidur dan berdoa sebanyak mungkin untuk kesembuhannya. Akan
tetapi takdir berkata lain akhirnya Kenanga pun menghebuskan nafas terakhirnya
tepat dipukul 12 malam hari jum’at. Disaat itulah dunia menurutku seolah-olah
langsung hancur berantakan, semua angan seakan hanya menjadi cita-cita yang tak
bisa diteruskan, dunia terasa sempit dan mencekik leherku dan membuatku seakan
hampir bunuh diri. Aku mengerti sekarang kenapa cinta terkadang bisa membuat
orang bahagia dan juga bisa menghunuskan pedang tajamnya dan membuat orang
bunuh diri karena cinta, itu hampir saja aku lakukan tuk mengiris nadiku dan
berharap bisa kekal dengan Kenanga entah didunia apa namanya, tetapi aku
urungkan niatku itu.
Aku
memilih berlari ketanah lapang yang tidak ada orang disekelilingnya, aku hanya
terus berlalu dan tak sadar bahwa air mataku ini menetes dan jatuh dibawah
rerumputan. Ternyata aku hanya wanita yang bisa sedih juga jika tertimpa
masalah hati seperti ini, aku baru saja ditinggal oleh seorang yang membuatku
mencintai sebuah ciptaan Tuhan, indah sekali bahkan nikmat sekali rasanya
mencintai orang yang kita sayang. Di dalam kesedihan itu pun memori tentang
Kenanga pun bermunculan, tentang sebuah tabir keindahan yang hanya akulah
yangbisa merasakannya, mugkin hanyalah wanita yang memiliki pemikiran lain
tentang segala hal dan juga tentang kesempurnaan bentuk fisik dan akupun sadar
wanita memiliki kodrat yang tak bisa dirubah. Lelaki memiliki kodratnya sendiri
begitupun juga wanita.
Setiap
manusia bebas menentukan siapakah dirinya dan mau jadi seperti apa dirinya, tapi aku memilih jalan
lain, aku akan menjadi diriku sendiri, seorang Endang Hargiani Syahwat yang
memilih kesederhanaan diri dan tidak mau hal yang muluk-muluk yang tidak harus
berpusing-pusing diri bagaimana terlihat cantik namun karena polesan. Karena
aku punya definisi lain tentang cantik, cantik yang abadi menurutku adalah
cantik yang dipancarkan dari keunikan kita dalam melihat fenomena.
Tanah
lapang itu terlihat sangat hening yang ada hanyalah rumput-rumput yang sangat
hijau, aku ingin menjadi sebagian dari
rumput-rumput itu. Rumput yang berbeda dengan sekelilingnya tetapi memiliki
klorofil yang sempurna, sebuah rumput yang berbeda dengan rumput yang lain
tetapi memiliki nilai uniknya sendiri, rumput yang tidak gampang layu meskipun
diinjak dan diterpa matahari, apakah kamu juga ingin menjadi sepeti rumput itu
sama sepertiku yang akan dipandang aneh oleh rumput-rumput lain? Ku rasa tidak.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar